Platform keuangan desentralisasi Rocket resmi menangguhkan seluruh aktivitas setoran, penarikan, sekaligus perdagangan di jaringan mereka pada 7 September 2026. Penutupan layanan diambil menyusul sebuah eksploitasi keamanan yang berujung pada hilangnya aset senilai $287.000 dari platform. Serangan itu berjalan dua hari sebelumnya, tepat pada 5 September sekitar pukul 19:00 UTC.
Berdasarkan catatan firma keamanan blockchain SlowMist, insiden yang menimpa Rocket diklasifikasikan murni sebagai serangan manipulasi harga. Pelaku membidik sebuah celah dalam sistem bursa terdesentralisasi: pasar kontrak perpetual yang sedang tidak aktif.
Perdagangan Fiktif Lewat Akun Sekali Pakai
Untuk melancarkan serangan, pelaku mengerahkan sebuah akun burner. Melalui entitas perantara itu, peretas membanjiri pasar perpetual yang tidak aktif dengan pesanan pada tingkat harga yang dinaikkan jauh melampaui nilai wajar aset. Setelah pesanan terpasang, ia mengeksekusi perdagangan berulang kali ke dirinya sendiri. Manipulasi mandiri ini dirancang untuk menciptakan aktivitas pasar buatan tanpa interaksi pengguna nyata.
Aktivitas jual beli fiktif sukses mengakali sistem pelaporan nilai bursa. Praktik ini menciptakan keuntungan palsu di satu akun utama pelaku, sementara akun burner pasangannya dengan cepat menyerap semua posisi buruk dan mengalami kebangkrutan. Setelah sistem platform membaca saldo positif, akun utama pelaku mencairkan uang tunai senilai $287.000. Seluruh penarikan aset curian diproses melewati fasilitas Bridge lintas-rantai platform.
Konsekuensi eksploitasi meluas melewati saku peretas. Kerugian bersih sebesar $287.000 tidak ditanggung oleh protokol Rocket sendirian, melainkan disosialisasikan ke seluruh basis pengguna platform lewat mekanisme loss socialization. Karena sistem membagi rata beban kerugian bursa, dana yang ditarik pelaku langsung memotong nilai portofolio kolektif para pengguna platform yang bahkan tidak terlibat dalam transaksi.
Mengulang Insiden Hyperliquid
Taktik eksploitasi pasar sepi bukan hal baru di ekosistem terdesentralisasi. Metode manipulasi pelaku meniru serangan yang menimpa platform Hyperliquid pada bulan Maret 2025. Saat itu, penyerang mengeksploitasi pasar kontrak JELLY yang kehabisan likuiditas harian untuk mendongkrak harga aset dan menarik keluar laba buatan.
๐ Baca JugaHyperliquid Buka Kunci $820 Juta HYPE - Namun Data Historis Tunjukkan Mayoritas Token Tak Pernah Tiba di Bursa
Manajemen Rocket kini berkoordinasi erat bersama berbagai bursa kripto terpusat, pengelola jembatan lintas-rantai, dan penerbit stablecoin demi melacak pergerakan aset curian. Target utamanya adalah memblokir jalur pencairan dana. Namun, pihak Rocket belum memberikan laporan soal nominal aset yang sukses dibekukan, maupun mengungkap identitas firma keamanan spesifik yang ditarik menangani investigasi.
Pasar kontrak yang sepi bukan sekadar layar kosong - kadang ia jadi pintu darurat bagi peretas. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Baca juga: DefiLlama Rilis Rating Kripto Ala Wall Street - Dari 128 Token, Cuma Uniswap yang Tembus AAA
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




