Valuasi aset kripto selain Bitcoin berpeluang naik minimal dua kali lipat dalam kurun 12 hingga 24 bulan ke depan. Prediksi ini dilontarkan oleh Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, yang menyoroti satu pemicu utama: makin banyaknya protokol decentralized finance (DeFi) dan jaringan layer-1 yang menggunakan pendapatan biaya untuk membeli dan membakar token mereka sendiri.
Para pengembang tak lagi sekadar mencetak token tata kelola tanpa fungsi ekonomi yang jelas. Mekanisme buyback and burn ini mengubah arah angin industri. Menurut Hougan, investor di pasar saat ini belum memasukkan perubahan struktural ini ke dalam kalkulasi harga. Akibatnya, banyak aset kripto di sektor ini masih berada di bawah nilai sebenarnya.
Kas Mengalir ke Token
Tren mengubah pendapatan biaya menjadi nilai token sudah dijalankan oleh sejumlah nama besar seperti Hyperliquid, Uniswap, Aave, Pump.fun, dan Lighter. Di ekosistem Aave, program pembelian kembali yang dijalankan DAO telah menyerap lebih dari 205.000 token AAVE dari pasar bebas hanya dalam 10 bulan pertama.
Stani Kulechov selaku pendiri Aave bahkan mempertegas komitmen ini. Ia memastikan 100% pendapatan dari Aave Protocol dan stablecoin GHO akan didedikasikan sepenuhnya untuk mengapresiasi nilai token AAVE.
Langkah serupa terjadi di Uniswap. Pada 22 Desember 2025 lalu, komunitas menyetujui proposal “UNIfication” yang mengaktifkan pemungutan biaya protokol. Hasil pungutan kas ini tidak dibiarkan menumpuk di perbendaharaan, melainkan dipakai untuk membakar token UNI, menciptakan kelangkaan pasokan sekaligus tekanan beli yang konstan.
Buah dari Pelonggaran Regulasi
Keberanian proyek kripto mendistribusikan nilai langsung ke pemegang token tidak muncul begitu saja. Hougan menilai pergeseran ini merupakan hasil dari lingkungan regulasi Amerika Serikat yang jauh lebih permisif setelah berakhirnya era administrasi Donald Trump.
Dalam sebuah pernyataan pada 5 Agustus lalu, bos Bitwise itu menyebut panduan regulasi dari pemerintah AS kini sudah cukup jelas. Kejelasan ini diyakini mampu mempertahankan laju ekspansi industri kripto ke depan, bahkan seandainya kerangka undang-undang besar yang ditunggu-tunggu seperti CLARITY Act gagal disahkan.
๐ Baca JugaAset Tokenisasi Meroket Jadi $7,4 Miliar - Saat Bursa DeFi Runtuh 70%
Batas Nyata Sistem Terdesentralisasi
Meski mekanisme buyback ini sekilas sangat mirip dengan aksi korporasi memborong sahamnya sendiri, landasan hukumnya berbeda jauh. Pemegang token kripto tetap tidak memiliki hak klaim hukum atas arus kas protokol layaknya investor yang memegang saham perusahaan publik.
Di samping itu, sistem tata kelola terdesentralisasi juga membawa risikonya sendiri. Model ekonomi token sebuah proyek bisa berubah kapan saja asalkan komunitas menyetujui proposal baru. Tidak ada jaminan tertulis bahwa program pembakaran hari ini akan terus berlanjut bulan depan. Membeli aset kripto mengharuskan investor menaruh kepercayaan pada arah suara mayoritas, bukan pada kontrak yang diikat oleh hukum negara.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




