Jaringan pesan keuangan global SWIFT resmi mengaktifkan buku besar berbasis blockchain pada 9 Juli 2026. Proyek ini menggandeng 17 bank dari enam benua: ANZ, BNP Paribas, BNY, Citi, DBS, First Abu Dhabi Bank, FirstRand, HSBC, Itau Unibanco, Lloyds, Mashreq, MUFG, OCBC, Standard Chartered, UBS, UOB, dan Wells Fargo.
Sistem ini dibangun dalam sembilan bulan sejak pertama kali diumumkan. Arsitekturnya kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine (EVM) dan menggunakan basis Hyperledger Besu, dengan keterlibatan firma perangkat lunak Consensys di balik layar. Namun yang menarik dari infrastruktur baru ini bukanlah teknologinya, melainkan keputusannya untuk tidak menyentuh aset digital bernilai $315 miliar: stablecoin.
Kenapa Memilih Deposito Tokenisasi
Alih-alih merangkul stablecoin untuk pembayaran global, sistem SWIFT dirancang khusus membawa deposito bank yang di-tokenisasi. Keputusan ini sengaja diambil untuk memastikan entitas perbankan tetap berada di pusat sistem keuangan digital.
Ada perbedaan mendasar antara kedua instrumen ini. Stablecoin memindahkan uang keluar dari neraca bank menuju aset cadangan mandiri seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat. Sebaliknya, deposito tokenisasi membuat dana nasabah tetap tercatat di neraca bank. Dengan uang yang tetap mengendap, lembaga keuangan masih bisa menggunakan dana itu untuk menyalurkan kredit kepada nasabah lain.
Perbedaan struktural ini sejalan dengan pandangan otoritas. Laporan Federal Reserve New York pada Februari 2026 menegaskan bahwa stablecoin mengintermediasi aset aman menjadi alat tukar, sementara deposito tokenisasi memungkinkan bank tetap menjalankan fungsi utamanya dalam membiayai pinjaman.
Langkah ini menempatkan SWIFT sebagai penyedia alternatif bagi koridor perbankan tanpa mengharuskan adopsi stablecoin sama sekali. Chief Business Officer SWIFT menyebut inisiatif ini sebagai upaya memperluas kepercayaan dan stabilitas keuangan konvensional ke ranah uang digital.
📌 Baca JugaAS Pukul Brasil dengan Tarif 25% Demi Visa - Ironinya Dolar Justru Rajai 90% Kripto Lokal
Tidak Mengganti Sistem Lama
Target utama peluncuran jaringan ini adalah memungkinkan pembayaran lintas batas berjalan penuh 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Selama ini, pembayaran antarnegara kerap terhambat pada malam hari atau akhir pekan karena bergantung pada jam operasional bank yang saling tumpang tindih di berbagai zona waktu berbeda.
Meski membawa pembaruan besar dalam hal kecepatan, blockchain baru ini tidak dirancang mengambil alih peran infrastruktur yang sudah ada. Penyelesaian akhir transaksi tetap dieksekusi melalui jalur pembayaran yang berlaku saat ini. Buku besar digital berfungsi berkoordinasi di atas sistem perbankan koresponden, bukan menggantikannya.
Kini bank memiliki infrastrukturnya sendiri untuk bersaing dengan efisiensi uang kripto, tanpa harus menyerahkan kendali likuiditas mereka ke penerbit aset pihak ketiga. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




