Dua kabar kontras mewarnai ekosistem Ethereum pada hari yang sama. Analis Wall Street Tom Lee memprediksi harga ETH bakal melampaui $5.000 sebelum akhir 2026, menurut laporan WatcherGuru di X. Saat prediksi ini beredar pada 12 Oktober 2026, ETH diperdagangkan di kisaran $2.555-$2.563, yang berarti target Lee menuntut kenaikan hampir dua kali lipat dari harga saat ini.
Namun, optimisme di pasar spot berbanding terbalik dengan diskursus teknis yang bergulir di antara pengembang inti jaringan.
Vitalik Buterin justru mengalihkan perhatian ke fondasi keamanan aset digital. Pendiri Ethereum ini mendukung peringatan peneliti Justin Drake bahwa kemajuan kecerdasan buatan berpotensi melemahkan kriptografi blockchain lebih cepat dibanding komputer kuantum.
Kenapa AI Lebih Mendesak Dibanding Komputer Kuantum
Kekhawatiran Drake dipicu oleh langkah OpenAI yang merilis ratusan temuan matematika baru yang belum mampu dipecahkan oleh manusia. Kendati temuan itu tidak berhubungan langsung dengan sistem kriptografi, lompatan kemampuan agen AI dalam menyelesaikan matematika rumit membuka celah baru. Drake menilai agen AI berpotensi menemukan kelemahan dalam kriptografi kurva eliptik maupun kriptografi berbasis kisi, dua pilar matematika yang menopang keamanan dompet dan transaksi blockchain saat ini.
Melihat laju riset itu, Drake menyerukan agar industri kripto bersiap memasuki “bunker mode”. Buterin mengamini risiko itu sembari meminta komunitas tetap tenang. “Saya tidak merekomendasikan siapapun bergegas memindahkan dana ke dompet baru hari ini. Tapi kita harus menganggap serius risiko terhadap kriptografi dari matematika yang dipercepat AI,” tulis Buterin.
Tuduhan Fear Mongering dan Reaksi Pasar
Peringatan Drake dan Buterin tidak diterima bulat oleh seluruh pelaku industri. Sejumlah analis dan pengembang proyek kripto lain melayangkan kritik tajam, menyebut kekhawatiran itu sebagai aksi “fear mongering”. Pihak pengkritik menegaskan bahwa sampai sekarang belum ada bukti nyata AI hampir memecahkan algoritma kriptografi modern.
Kendati menuai perdebatan, pasar memperlihatkan sensitivitas tinggi terhadap isu proteksi kriptografi. Token StarkNet (STRK) mencatat kenaikan harga hingga 91% setelah timnya mengumumkan rencana transformasi menjadi blockchain L1 post-kuantum. Minat terhadap isu ini sebetulnya bukan hal baru, mengingat Zcash dan Tron sudah lebih dulu mengaktifkan pertahanan post-kuantum di testnet masing-masing.
๐ Baca JugaDua Dompet Ethereum Foundation Kirim $11 Juta ETH ke Kraken - Alokasi 10 Tahun Lalu Kini Tinggal 17%
Bagi pemegang ETH, dua narasi per 12 Oktober 2026 ini membawa perspektif yang saling menguji. Target $5.000 dari Tom Lee menawarkan optimisme angka di grafik pasar, tetapi pengingat Vitalik Buterin menegaskan bahwa nilai aset bergantung penuh pada ketahanan kode matematika di baliknya.
Dilansir dari @WatcherGuru di X.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Baca juga: Dua Dompet Ethereum Foundation Kirim $11 Juta ETH ke Kraken - Alokasi 10 Tahun Lalu Kini Tinggal 17%
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




