Presiden Donald Trump turun tangan langsung menekan Senat AS agar segera mengesahkan CLARITY Act, RUU besar yang mengatur aset digital, dan ia membungkusnya dengan alasan yang sulit ditolak secara politik: penghormatan kepada mendiang Senator Lindsey Graham. Lewat postingan di Truth Social, Trump menyebut Graham - yang meninggal dunia akhir pekan ini setelah sakit singkat - sebagai pendukung kuat RUU tersebut, dan mendesak Kongres tak lagi menunda.
Di postingan terpisah yang viral dengan ribuan like, Trump menaikkan taruhannya: ia menuduh China ingin mengambil “kendali penuh dan total” atas kripto dan kecerdasan buatan jika Amerika gagal bergerak cepat. “AS harus memimpin di aset digital dan AI,” tegasnya.
Draf 70 Halaman yang Sudah di Ujung Meja
Tekanan Trump datang tepat saat momentum sedang panas. Staf Senat dijadwalkan merilis draf gabungan CLARITY Act pekan ini, menggabungkan usulan Komite Perbankan dan Komite Pertanian Senat menjadi satu naskah yang bertambah lebih dari 70 halaman - termasuk perlindungan konsumen yang lebih kuat.
Penasihat kripto Gedung Putih, Patrick Witt, menyebut pekan ini sebagai momen krusial yang bertepatan dengan ulang tahun pertama GENIUS Act menjadi undang-undang. Menurutnya, Kongres tak bisa lagi menunda. Senator Cynthia Lummis ikut mendorong, mengenang bahwa Graham percaya AS harus jadi yang terdepan di aset digital, dan mendesak Senat segera meloloskan RUU untuk dikirim ke meja Trump.
Bayang-bayang Konflik Kepentingan
Namun laju ini tak mulus. Sekelompok senator Demokrat - Elizabeth Warren, Richard Blumenthal, Gary Peters, Dick Durbin, dan Ron Wyden - meminta Kongres menggelar dengar pendapat lebih dulu soal implikasi keamanan nasional dari kepemilikan kripto pribadi Trump sebelum CLARITY Act disahkan. Alasannya: pengungkapan keuangan terbaru Trump menunjukkan bisnis kripto keluarganya menghasilkan sekitar $1,4 miliar, sementara investor luar yang identitasnya tak diketahui masih memegang kepentingan di proyek World Liberty Financial.
📌 Baca JugaRegulator yang Bakal Mengawasi Kripto $2,2 Triliun Ini Cuma Punya Satu Orang di Kursinya - dan Anehnya Malah Makin Gesit
Klaim itu dibantah Chief Policy Officer Coinbase, Faryar Shirzad. Menurutnya CLARITY Act justru memperketat, bukan melemahkan, keamanan nasional - RUU ini mewajibkan pialang, dealer, dan bursa kripto patuh pada UU Rahasia Bank: program anti pencucian uang, verifikasi identitas nasabah, pelaporan aktivitas mencurigakan, kepatuhan sanksi, hingga prosedur penangguhan transfer atas permintaan penegak hukum.
Antara Kecepatan dan Kehati-hatian
Yang menarik dicermati bukan sekadar apakah CLARITY Act lolos, tapi tarik-menarik di baliknya: satu kubu ingin menggeber RUU atas nama perlombaan dengan China, kubu lain menuntut jeda untuk memastikan aturan itu tak sekaligus menguntungkan bisnis pribadi sang presiden. Bagi pasar kripto Indonesia, arah regulasi AS ini penting karena kerangka hukum di negeri Paman Sam kerap jadi acuan bagaimana aset digital diperlakukan di banyak yurisdiksi lain. Pekan ini bisa jadi penentu ke mana angin bertiup.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




