Angkanya terdengar seperti kabar bagus di tengah pasar yang muram: volume trading futures Binance meledak 80% dalam sebulan, menembus rekor $1,61 triliun pada Juni - tertinggi sepanjang 2026. Tapi justru di situlah letak keanehannya. Lonjakan itu terjadi saat Bitcoin masih terjebak di kisaran pertengahan $60 ribuan dan banyak trader menyebut suasana pasar sedang bearish. Bahkan analis yang menyingkap datanya sendiri menyebut situasi ini tak terduga.
Data itu berasal dari Maarten Regterschot, analis CryptoQuant yang dikenal dengan nama akun Maartunn. Kenaikan 80% dari $893 miliar di bulan Mei ke $1,61 triliun di Juni bukan angka kecil - dan Binance meninggalkan para pesaingnya jauh di belakang.
Binance Sendirian di Puncak
Bandingkan saja: OKX mencatat $609 miliar volume futures di Juni, naik 9% dari Mei, sementara Bybit $434 miliar, naik 18%. Keduanya memang naik, tapi jaraknya dengan Binance menganga lebar. Di keseluruhan kuartal kedua, Binance tetap jadi bursa futures terbesar dengan pangsa pasar sekitar 28%. Momentumnya bahkan berlanjut ke Juli: data awal CryptoQuant mencatat $418 miliar volume futures Binance hanya dalam 10 hari pertama bulan itu.
Yang bikin lonjakan ini makin menarik, timing-nya berimpitan dengan berakhirnya masa transisi regulasi MiCA Uni Eropa pada 1 Juli. Binance sempat menarik aplikasi lisensinya di Yunani pada akhir Juni, beberapa hari sebelum aturan baru berlaku - namun aktivitas futures-nya tetap deras pascatransisi.
Saat Pasar Spot Justru Sekarat
Di balik rekor futures itu, sisi lain pasar bercerita sebaliknya. Volume trading spot di seluruh bursa terpusat anjlok ke $3 triliun pada kuartal kedua 2026 - kuartal terlemah dalam dua tahun terakhir, turun 18,9% dari kuartal sebelumnya. Binance tetap jadi bursa spot terbesar dengan $731 miliar volume kuartalan, tapi pangsa pasarnya tergerus dari 27% menjadi 24%. Bahkan di sisi futures secara industri, gambarannya tak semulus rekor Binance: total volume futures seluruh bursa terpusat justru turun untuk kuartal ketiga berturut-turut, ke $15,7 triliun di Q2 2026, melorot 11% dari $17,6 triliun di Q1 - meski laju penurunannya sudah melambat dibanding Q1 yang anjlok 31%.
📌 Baca JugaRaksasa Jepang SBI Diam-diam Kuasai Bursa Kripto Singapura - Ini Peta ‘Kerajaan Aset Digital’ yang Sedang Dibangunnya
Apa yang Sebenarnya Diceritakan Angka Ini
Kontras antara futures yang meledak dan spot yang sekarat sering kali menandakan satu hal: pasar sedang lebih banyak berspekulasi ketimbang benar-benar membeli dan memegang aset. Ketika volume derivatif melampaui perdagangan spot sejauh ini, itu biasanya cerminan trader yang mengejar leverage dan pergerakan jangka pendek, bukan investor yang menumpuk untuk jangka panjang. Bagi yang memantau kesehatan pasar, rekor Binance ini bukan alasan untuk euforia - melainkan pengingat bahwa di balik satu angka besar yang mengkilap, denyut fundamental pasar kripto justru sedang melemah.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




