Senat Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemungutan suara cloture untuk memutus filibuster atas CLARITY Act pada Selasa, 15 September 2026. Prosedur ini mensyaratkan dukungan 60 suara dari total anggota parlemen agar bisa lolos. Mengingat Partai Republik memegang 53 kursi, mereka membutuhkan sekitar tujuh tambahan suara dari kubu Demokrat untuk menyelamatkan rancangan undang-undang kripto itu.
Jika pemungutan suara meleset dari target, sisa waktu untuk pengesahan menjadi kian sempit. Senat tercatat hanya memiliki kurang dari 36 hari masa sidang sebelum berganti tahun ke 2027, yang sekaligus menandai dimulainya sesi Kongres formasi baru. Senator Cynthia Lummis, pendukung utama CLARITY, memperingatkan bahwa peluang nyata berikutnya untuk meloloskan aturan sejenis mungkin baru terbuka pada tahun 2030 jika rancangan yang ada kandas.
Posisi legislasi ini makin rentan karena Lummis telah memutuskan untuk tidak mencalonkan diri kembali pada pemilu 2026. Kepergiannya menambah risiko kehilangan sosok pengawal utama regulasi kripto di tingkat parlemen.
Taruhan Politik di Balik November 2026
Kekhawatiran soal tenggat 2030 berkaitan langsung dengan jadwal pergeseran peta politik. Seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat dan 33 kursi Senat akan diperebutkan dalam pemilu paruh waktu bulan November 2026. Di pasar prediksi, peluang Demokrat untuk merebut mayoritas DPR lebih diunggulkan, sementara persaingan di Senat dinilai seimbang seperti lemparan koin.
Apabila Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres, arah rancangan undang-undang kripto berisiko dirombak total atau dibatalkan mulai 2027. Sebagai bentuk antisipasi, komite aksi politik Fairshake yang mendapat dana dari Coinbase dan Ripple Labs kini aktif mendanai kampanye para kandidat pro-kripto di pemilu 2026.
Skenario Bertahan Lewat Regulator
Tanpa keberadaan undang-undang yang sah, aturan main industri di Amerika Serikat masih bergantung pada kebijakan instansi terkait. Ketua SEC Paul Atkins dan Ketua CFTC Michael Selig diperkirakan tetap mempertahankan jabatan mereka selama pemerintahan Trump. Keduanya berencana melanjutkan penetapan regulasi kripto secara mandiri jika CLARITY Act benar-benar gagal disahkan.
๐ Baca JugaMeksiko Sita 300 Mesin Penambang Kripto - Suara Bising Bongkar Modus Curi Listrik Bendungan
Apa Dampaknya ke Pasar Saat Ini?
Efek tertundanya landasan regulasi berimbas langsung pada pergerakan aset. Ketidakpastian mengenai nasib CLARITY disebut sebagai salah satu faktor yang menahan eksposur pelaku institusional terhadap Ethereum, terutama menjelang rapat Federal Reserve pada 15-16 September. Pemodal besar memilih menunda penambahan posisi jangka panjang karena absennya undang-undang yang baku.
Hasil perhitungan suara pekan ini akan menentukan apakah industri akhirnya mendapat aturan utuh, atau harus kembali mengikuti pedoman tafsir dari pengawas lembaga hingga tahun-tahun mendatang. Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Kripto Beku di Bursa Bangkrut Tetap Wajib Lapor - Putusan Baru Korea Selatan Ikat Para Korban
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




