Kran aliran modal mengering tepat di tengah tahun. Produk ETF XRP di Amerika Serikat mencatat aliran dana nol selama enam sesi perdagangan berturut-turut di paruh pertama Juli 2026. Angka kosong ini menjadi penegas hilangnya selera institusional, padahal total aset dalam kompleks ETF ini masih bertahan di atas $1 miliar. Tren suram ini disempurnakan oleh catatan outflow terbesar sejak Maret, yakni $7,29 juta yang keluar pada 9 Juli. Arus keluar ini hanya sedikit diobati oleh inflow $6,78 juta pada 16 Juli, yang ternyata didorong murni oleh pergerakan dari meja dua penerbit saja. Perubahan drastis ini memperlihatkan bagaimana bid peluncuran awal yang sempat menembus $667 juta kini perlahan menguap.
Di balik angka $1 miliar yang tersisa itu, komposisi kepemilikannya mengungkap siapa penyangga harga sebenarnya.
Ritel Memikul Beban Pasar Spot
Komposisi pemegang ETF XRP memperlihatkan jarak yang timpang antar kelas investor. Berbeda dari ETF Solana yang menampung 48,8% pemegang institusional, ETF XRP saat ini 84% dikuasai oleh investor ritel. Porsi institusi yang hanya menyisakan 16% menjadi bukti bahwa bid dari kelas berat sudah nyaris lenyap dari pasar spot Amerika Serikat.
Goldman Sachs mengeluarkan peringatan spesifik untuk membaca fenomena ini: keberadaan produk institusi tidak lantas berarti ada permintaan institusional untuk instrumen beli spot. Peringatan ini merujuk langsung pada pasar CME XRP futures yang justru mencetak rekor open interest (OI) mencapai $1,4 miliar, melibatkan 29 pemegang OI besar. Pasar berjangka ini terlihat matang di bursa CME, anehnya hal ini terjadi persis ketika seluruh pasar derivatif XRP ambruk dari puncaknya di $10 miliar dan kehilangan 75 hingga 96% nilainya.
Eropa Menjadi Pintu Darurat
Ketika produk ETF Amerika Serikat mencetak angka nol, perbandingan dengan kawasan lain memperlihatkan arah lari modal. Produk ETP XRP di Eropa, termasuk Swiss dan negara sekitarnya, terus mencatatkan penerimaan net inflow mingguan. Data ini membuktikan bahwa bid marjinal institusi masih ada, asalkan berada di yurisdiksi yang memberikan aturan main pasti.
📌 Baca JugaSaham Teknologi AS Lenyapkan Valuasi $797 Miliar dalam Sehari - Tapi Bitcoin Memilih Berdiam Diri di $65.000
Analis memandang selisih pergerakan modal lintas benua ini sebagai eksperimen natural. Uang mengalir ke wilayah yang tidak lagi meributkan status legal kripto berkat payung regulasi MiCA di Eropa. Sebaliknya, pasar Amerika Serikat harus menelan stagnasi karena institusi menahan diri sambil menunggu pengesahan CLARITY Act. Selama hukum Amerika masih menggantung, arah modal sudah terbelah: ritel menyangga pasar spot dalam negeri, sementara bid institusi mencari aman di pasar berjangka dan bursa Eropa.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




