Saat harga ETH berada di kisaran $2.240 dan penerbitan koin baru melampaui jumlah yang dibakar akibat penurunan aktivitas mainnet, Vitalik Buterin melontarkan koreksi terhadap arah valuasi Ethereum. Co-founder jaringan itu menyatakan ETH seharusnya dinilai sebagai aset penyimpan nilai (store of value), desentralisasi, keamanan, serta resistensi terhadap kontrol eksternal, bukan sekadar bertumpu pada pembakaran biaya transaksi (fee burns).
Perdebatan mengenai fondasi ekonomi ETH meruncing setelah volume pembakaran koin merosot tajam pasca-upgrade Dencun pada Maret 2024, yang memindahkan sebagian besar beban transaksi ke solusi layer-2 berbiaya rendah. Vitalik menegaskan mekanisme EIP-1559 tetap harus dipertahankan. Namun, ia mempertanyakan apakah pemotongan pasokan lewat pembakaran biaya transaksi dapat diandalkan terus-menerus untuk menopang valuasi pasar aset kripto.
Simulasi $25 Miliar yang Bertumpu pada Spekulasi
Vitalik mengkritik model ekonomi analis pasar yang memperlakukan ETH layaknya aset bisnis konvensional dengan valuasi yang dihitung dari aliran pendapatan biaya rutin. Lewat sebuah simulasi, ia membedah skenario pembakaran koin tahunan sebesar $1 miliar dengan tingkat diskonto 4%. Di atas kertas, perhitungan itu membenarkan valuasi pasar $25 miliar. Masalahnya, model ini dinilai rapuh karena pendapatan biaya jaringan sangat bergantung pada pasang-surut spekulasi di pasar kripto.
Kerapuhan model itu berakar dari siklus pasar. Antara 2021 hingga 2023, jutaan ETH terbakar akibat tingginya biaya transaksi dari perdagangan spekulatif NFT dan DeFi yang digerakkan perputaran modal internal industri kripto. Begitu harga pasar turun, volume belanja biaya ikut merosot tajam. Vitalik juga menilai kehadiran aset dunia nyata (real-world assets atau RWA) terakreditasi di Ethereum tidak akan mampu mereproduksi lonjakan biaya ekstrem seperti masa euforia perdagangan NFT terdahulu.
Risiko 700.000 ETH per Tahun untuk Tata Kelola Korporasi
Mengarahkan Ethereum menjadi entitas berorientasi pendapatan layaknya korporasi komersial dinilai membawa konsekuensi teknis yang berat. Vitalik memperkirakan protokol membutuhkan sekitar 700.000 ETH per tahun untuk biaya riset dan pengembangan (R&D) serta tata kelola intervensionis jika dipaksa beroperasi seperti perusahaan pemburu laba. Arah kebijakan seperti itu berisiko menaikkan gas fee di jaringan utama dan membatasi akses bagi pengguna yang membutuhkan privasi.
Dukungan Terbuka dari Pendiri Solana
Pandangan Vitalik mengenai kekeliruan mengejar biaya transaksi mendapat sambutan positif dari kubu rival. Co-founder Solana Anatoly Yakovenko menyampaikan dukungan terbuka melalui platform X. Anatoly menyatakan bahwa memperlakukan biaya transaksi jaringan sebagai produk utama adalah langkah yang tidak bermakna, dan pengembang blockchain seharusnya fokus memberikan layanan terbaik bagi pengguna.
Bagi pemegang ETH, pergeseran narasi ini memberi batas tegas: kekuatan jaringan kembali diletakkan pada keandalan desentralisasi dan keamanan sistem, bukan dari perburuan biaya transaksi jangka pendek.
๐ Baca JugaDompet 0x4AB7 Beli 3.300 ETH di Kisaran $2.245 - Akumulasi Sepekan Capai $29,95 Juta Saat Dua Paus Lain Ikut Masuk
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Kerja Staking Kripto dan Risikonya
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




