Sistem keamanan Binance mendeteksi sebuah proposal tata kelola yang nyaris menguras $1,2 juta token dari kas sebuah Decentralized Autonomous Organization (DAO). Berdasarkan pengumuman pada 18 Agustus, peringatan dini ini menyala ketika waktu tersisa kurang dari 48 jam sebelum proposal berbahaya itu otomatis dieksekusi oleh jaringan. Tim Binance langsung menghubungi pengembang proyek dan menyetop opsi setoran ke bursa.
Celah Murah Menuju Kas Komunitas
Penyerang mencoba menembus mekanisme tata kelola on-chain milik komunitas. Ambang batas atau threshold pembuatan proposal di proyek ini dilaporkan terlalu rendah. Kelemahan ini memberi ruang bagi pihak tak bertanggung jawab untuk memicu pemungutan suara resmi yang bertujuan memindahkan $1,2 juta token dari brankas utama ke dompet mereka.
Modus perampokan lewat jalur pemungutan suara semacam ini kian marak. Pada Juli lalu, celah serupa menimpa BonkDAO. Dalam insiden itu, peretas mengeksploitasi sistem lewat proposal tata kelola berbahaya dan meraup kerugian komunitas senilai $20 juta.
Chief Security Officer Binance Jimmy Su menyatakan ancaman terbaru ini sama sekali tidak ditandai oleh penyedia keamanan eksternal mana pun. Sistem pemantauan Binance mendeteksinya independen tanpa laporan pihak ketiga. Meski berhasil mencegah peretasan, Binance masih menutup rapat detail kejadian ini. Mereka tidak mengungkap nama proyek DAO, jenis token, platform tata kelola yang dipakai, maupun bursa terpusat yang diajak bekerja sama. Laporan pascakejadian atau postmortem publik juga belum diumumkan.
Mencegah Penjualan di Pasar Terbuka
Dalam jendela waktu 48 jam yang sempit, Binance tidak hanya memperingatkan tim proyek. Mereka juga berkoordinasi dengan beberapa bursa terpusat lain untuk memblokir deposit token yang sedang diserang. Menutup jalur deposit di bursa terpusat sebenarnya tidak memiliki kekuatan teknis untuk membatalkan proposal di dalam jaringan blockchain.
๐ Baca JugaPencuri 1.082 BTC Lewat Celah Coldcard Tinggalkan Jejak Log - Tapi FBI Belum Bergerak
Langkah penutupan itu murni berfungsi sebagai penghalang sekunder. Pemblokiran deposit bertujuan membatasi jalur penjualan token pasca eksekusi, sehingga peretas kesulitan membuang token curian ke pasar terbuka untuk ditukar dengan aset lain.
Pada akhirnya, kas $1,2 juta itu selamat berkat partisipasi pemilih. Sebelum batas waktu eksekusi habis, anggota komunitas proyek memvoting menolak proposal itu. Eksekusi pun batal dan tidak ada dana yang hilang. Insiden ini membuktikan bahwa rutin mengecek dan menggunakan hak suara di ekosistem kripto bukan sekadar formalitas, melainkan fungsi keamanan terakhir saat ambang batas sistem dibiarkan terlalu longgar.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




