BitMEX mengumumkan penutupan operasionalnya pada September 2026 setelah bertahan selama 11 tahun di industri kripto. Bursa yang diluncurkan pada tahun 2014 ini dulu dikenal luas karena memperkenalkan instrumen perpetual swap dengan leverage hingga 100x. Keputusan mundur ini memukul langsung nilai aset internal mereka, terlihat dari harga token utilitas BMEX yang langsung anjlok setelah kabar penutupan diumumkan.
Dominasi BitMEX di pasar derivatif memang sudah pudar. CEO CryptoQuant Ki Young Ju mencatat pangsa pasar Bitcoin futures bursa ini sekarang hanya tersisa 0,08%. Volume perdagangan hariannya pun menyusut, bertahan di kisaran $84 juta. Penurunan volume ini merupakan imbas langsung dari persaingan ketat melawan bursa dominan seperti Binance, ditambah tekanan dari protokol terdesentralisasi seperti Hyperliquid yang mulai merebut perhatian trader.
Kenapa Tergilas di Pasar Sendiri
Penurunan basis pengguna ini memaksa BitMEX mengambil langkah akhir. Penasihat restrukturisasi Roshan Dharia menilai penutupan ini menjadi tanda industri kripto sedang melewati fase konsolidasi. Tren ini sejalan dengan kondisi pasar yang lebih luas, di mana bursa lain seperti BitMart juga mengumumkan penutupan operasional dalam waktu yang hampir bersamaan.
Masalah BitMEX tidak berhenti pada lesunya volume perdagangan. Tepat pada hari pengumuman penutupan, muncul sebuah gugatan massal dari kelompok pelanggan. Para penggugat menuduh bursa ini berbuat curang dengan merekayasa proses likuidasi demi menyita kolateral milik trader. BitMEX langsung menyangkal tuduhan itu dan menyatakan mereka pernah menghadapi klaim serupa di masa lalu serta berhasil membela diri di pengadilan.
Regulasi Tertahan dan Indeks Baru
Di luar dinamika bursa, sentimen pasar juga tertahan oleh lambatnya proses legislasi di Amerika Serikat. Clarity Act kemungkinan besar tidak akan lolos pemungutan suara sebelum masa reses kongres bulan Agustus dimulai. Prospek ini terlihat jelas di pasar prediksi Polymarket, di mana probabilitas kelolosan rancangan undang-undang itu hanya berada di tingkat 38%.
📌 Baca JugaBitMart Janji Tutup Rapi Januari Depan - Tapi Pintu Keluar Dana Nasabah Sudah Terkunci Delapan Jam
Pada saat yang sama, langkah institusional untuk merangkul kripto terus berjalan. S&P Dow Jones Indices menggandeng Pantera Capital meluncurkan indeks aset digital institusional. Indeks baru ini berisi 18 konstituen, dengan porsi terbesar dipegang oleh ETH, BNB, SOL, TRX, dan HYPE. Satu hal yang menonjol dari produk ini adalah absennya dua koin populer: Bitcoin dan XRP tidak dimasukkan dalam daftar pilihan institusi itu.
Tumbangnya perintis seperti BitMEX memperlihatkan cepatnya perputaran tren di sektor kripto. Pemain lama yang lambat beradaptasi pada akhirnya harus menyingkir. Bagi pelaku pasar, ini adalah pengingat konkret bahwa status sebagai pelopor tidak akan bertahan lama tanpa likuiditas dan kepercayaan pengguna yang terus dijaga. Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




