📅 Sabtu, 18 Juli 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Bolivia Timbang Masukkan USDT Tether ke Sistem Pembayaran Negara - Buntut Lonjakan Transaksi Kripto 630%

Bolivia Timbang Masukkan USDT Tether ke Sistem Pembayaran Negara - Buntut Lonjakan Transaksi Kripto 630%

📚 Istilah di Artikel Ini:

Bolivia sedang menimbang langkah yang beberapa tahun lalu masih mustahil: memasukkan stablecoin USDT milik Tether ke dalam sistem pembayaran nasionalnya. Menteri Ekonomi Bolivia, Jose Gabriel Espinoza, mengumumkan dalam konferensi pers Senin (13 Juli) bahwa pemerintah tengah mengevaluasi apakah USDT bisa beredar berdampingan dengan boliviano dan dolar AS.

Ini bukan berarti USDT langsung menjadi alat pembayaran sah. Menurut media lokal La Razon, usulan itu masih dalam tahap tinjauan teknis - pemerintah belum menerbitkan aturan implementasi maupun memberi status legal tender. Pejabat kini tengah menyusun kerangka kerja untuk bank, dompet digital, dan penyedia pembayaran.

Kenapa Bolivia Bergerak Sekarang

Dorongan ini muncul di tengah lonjakan tajam adopsi kripto sejak bank sentral Bolivia mencabut pembatasan transaksi kripto pada Juni 2024. Angkanya mencolok: volume transaksi kripto melonjak dari $46,5 juta pada semester pertama 2024 menjadi $294 juta di periode yang sama tahun berikutnya - kenaikan sekitar 630%.

Permintaan menguat seiring warga dan pelaku usaha mencari alternatif atas dolar AS yang makin langka di dalam negeri. Bolivia bahkan sudah mengakhiri patokan dolar tetap dan beralih ke nilai tukar mengambang awal tahun ini. Stablecoin seperti USDT menawarkan stabilitas nilai yang diburu, tanpa harus berebut lembaran dolar fisik yang sulit didapat.

Jalan yang Tak Sepenuhnya Mulus

Meski begitu, setiap peluncuran akan menuntut kontrol anti pencucian uang yang lebih ketat. Sebabnya, Bolivia masih masuk grey list Financial Action Task Force (FATF), yang berarti negara ini berada di bawah pengawasan lebih ketat soal celah rezim kejahatan finansial. Jejak menuju arah ini sudah ada: perusahaan energi negara YPFB mengumumkan rencana memakai kripto untuk impor energi tahun lalu, bank sentral sempat meminta bantuan El Salvador soal kerangka regulasi, dan bank milik negara Banco Union lewat dompet Yasta sudah memungkinkan nasabah membeli USDT via EFY Finance sejak April untuk pembayaran internasional dan remitansi.

Visa Luncurkan Platform Stablecoin Open USD - Circle Kini Punya Rival yang Didukung 140 Perusahaan📌 Baca JugaVisa Luncurkan Platform Stablecoin Open USD - Circle Kini Punya Rival yang Didukung 140 Perusahaan

Sinyal buat Kawasan

Kalau langkah ini berlanjut, Bolivia akan menyusul jejak El Salvador sebagai negara Amerika Latin yang merangkul aset digital di level kebijakan - tapi dengan pendekatan yang lebih hati-hati, lewat stablecoin ketimbang Bitcoin. Bagi pengamat di Indonesia, kasus Bolivia menarik karena memperlihatkan bagaimana kelangkaan mata uang keras bisa mendorong sebuah negara mengadopsi kripto bukan demi spekulasi, melainkan demi kebutuhan transaksi sehari-hari.

Dilansir dari CoinDesk.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share