Revolut menyerahkan riwayat transaksi Bitcoin dan data identitas nasabahnya kepada pihak tidak berwenang yang mengirim permintaan menggunakan alamat email berdomain resmi instansi pemerintah. Insiden ini terungkap ke publik pada Jumat, 11 September 2026, setelah investigator on-chain ZachXBT memposting salinan notifikasi pelanggan itu di saluran Telegram miliknya.
Email permintaan data itu lolos pemeriksaan autentikasi domain tanpa hambatan. Fakta di baliknya cukup sederhana: email dikirim langsung dari domain asli milik instansi negara, bukan dari alamat tiruan yang sengaja dibuat mirip.
Kasus ini menjadi bukti pembobolan yang sama sekali tidak membutuhkan peretasan server, melainkan hanya memanipulasi prosedur kepatuhan hukum perusahaan.
Daftar Panjang Data yang Diserahkan
Sejumlah nasabah mulai menerima email pemberitahuan mengenai status data mereka pada hari yang sama dengan temuan ZachXBT. Isinya merinci daftar informasi yang telah berpindah tangan, mulai dari biodata dasar seperti nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan, alamat pos, email, hingga nomor telepon pribadi.
Tingkat dokumen yang diberikan melampaui batas informasi kontak. Revolut turut menyerahkan salinan dokumen identitas berupa paspor atau SIM nasabah, foto selfie yang dipakai untuk verifikasi KYC, informasi status akun, tanggal pembukaan, dan nomor IBAN.
Di sisi aset kripto, penipu langsung mengantongi nomor referensi dompet Bitcoin para korban. Catatan penarikan dan seluruh riwayat transaksi lengkap yang memuat pergerakan Bitcoin ikut dilampirkan oleh perusahaan.
Revolut merilis batasan dampak kerugian privasi untuk menekan spekulasi lanjutan. Perusahaan menegaskan beberapa data sensitif yang tidak ikut diserahkan: biometrik wajah, kunci privat, kata sandi akun, serta detail kartu pembayaran lengkap.
Menargetkan Pengguna Berdompet Tebal
Perusahaan belum mengungkap angka pasti mengenai jumlah korban yang profilnya dibocorkan. Catatan operasional Revolut yang melayani lebih dari 80 juta nasabah global per Agustus 2026 murni menunjukkan besaran bisnis platform, bukan metrik jumlah korban.
๐ Baca JugaDOJ AS Bekukan Kripto $52 Juta Milik Hub Penipuan Xinbi - Tether Ikut Turun Tangan
Dari pengamatan awalnya, ZachXBT memperkirakan insiden pengungkapan data ini terjadi dalam skala terbatas. Pelaku tampaknya memilah target dan menyasar secara spesifik para pengguna berprofil kekayaan tinggi (high-net-worth users).
Revolut menjelaskan bahwa staf mereka memproses data karena memiliki “keyakinan yang wajar bahwa itu adalah permintaan autentik dari instansi pemerintah.” Mereka bersikeras bahwa kejadian ini murni berstatus pengungkapan informasi tidak sah, tanpa ada peretasan sistem internal.
Nama instansi pemerintah yang domain emailnya dipakai untuk menipu sama sekali tidak disebutkan dalam surat notifikasi. Identitas pelaku di balik permintaan palsu ini juga masih menjadi tanda tanya.
Peristiwa ini mengingatkan ulang satu hal mendasar dalam keamanan finansial: pengamanan kriptografi seketat apa pun akan rontok ketika petugas administrasi di pintu depan tertipu oleh selembar kop surat instansi negara.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Pembobolan Firma Hukum Naik Dua Kali Lipat - Data 69.461 Pengguna Coinbase Ikut Terseret
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




