Stablecoin dolar kerap dipuji sebagai jaring pengaman bagi warga di negara-negara dengan mata uang bermasalah. Tapi sebuah makalah kerja terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) menyodorkan sisi yang jarang dibahas: benda yang sama bisa berubah jadi pemicu yang mempercepat kaburnya warga dari mata uang lokal ketika krisis benar-benar datang.
Makalah berjudul “Stablecoins and Fragility in Fixed Exchange Rate Regimes” karya ekonom Brandon Joel Tan itu memodelkan bagaimana stablecoin memengaruhi pasar valuta asing paralel di negara yang akses dolar resminya dijatah ketat.
Penyelamat di Satu Sisi
Temuannya berkepala dua. Di satu sisi, stablecoin memang membantu orang mendapatkan dolar ketika bank atau kanal penukaran resmi tak sanggup memenuhi permintaan. Ini bukan teori belaka. Makalah itu menunjuk contoh nyata: pada Juni 2025, sejumlah peritel di bandara Bolivia terlihat mematok harga barang memakai USDT sebagai acuan, meski tetap menerima dolar AS atau boliviano. Sebelumnya, di Argentina, warga memanfaatkan ‘gua kripto’ bawah tanah untuk menukar peso menjadi stablecoin dolar dengan kurs yang lebih dekat ke pasar tak resmi - cara bertahan saat nilai peso terus tergerus.
Pemicu di Sisi Lain
Masalahnya muncul saat tekanan pada mata uang domestik memuncak. Tan berargumen stablecoin membuat “klaim serupa dolar jadi lebih mudah diakses” sekaligus menciptakan harga yang kasat mata dan bergerak cepat untuk permintaan dolar. Ketika kurs resmi sebuah negara jauh melenceng dari kurs pasar, harga itu bisa menjadi sinyal kelangkaan dolar yang mendorong banyak orang keluar dari mata uang lokal pada saat yang bersamaan. Dengan kata lain, layar harga yang sama-sama dipelototi semua orang bisa memicu kepanikan berjamaah. Karena itu, Tan menyarankan regulator mungkin perlu membatasi sementara transaksi yang luar biasa besar atau yang jelas didorong panik.
📌 Baca JugaVisa Luncurkan Platform Stablecoin Open USD - Circle Kini Punya Rival yang Didukung 140 Perusahaan
Peringatan ini bergema dengan kekhawatiran regulator lain. Financial Stability Board (FSB) sebelumnya mengingatkan stablecoin dolar bisa mengekspos negara berkembang pada substitusi mata uang, pelemahan kebijakan moneter, dan pengelakan kontrol arus modal. Buat pembaca di kawasan seperti Asia Tenggara, tarik-menarik inilah yang membuat perdebatan stablecoin tak sesederhana ‘baik’ atau ‘buruk’. Teknologi yang sama bisa jadi tameng bagi tabungan seseorang warga, sekaligus mempercepat guncangan bagi mata uang negaranya - dan garis pemisah keduanya sering kali tipis.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




