Data RootData mencatat lebih dari 100 proyek kripto tutup, bangkrut, atau menghilang sepanjang tahun 2026. Dalam sepekan di akhir Juli saja, empat perusahaan besar - BitMEX, BitMart, Movement Labs, dan Storj Labs - serempak mengumumkan penutupan operasi mereka.
Gelombang ini berbeda dari kejatuhan pasar 2022. Tidak ada satu titik penularan tunggal atau efek domino dari satu bursa yang runtuh. Kehancuran kali ini murni merupakan perhitungan menyeluruh setelah euforia pasar era kepresidenan Trump pada 2025 mereda. Lorenzo Valente dari Ark Invest menyebut fase ini sebagai konsolidasi terbesar dalam sejarah kripto, di mana dominasi pasar mengerucut tajam. Hyperliquid dan Pump.fun kini menguasai 67% dari total pendapatan seluruh aplikasi kripto, sementara sisa pasar berebut sisa porsi yang kian mengecil.
Di Balik Matinya Model Bisnis Token
Pola keruntuhan mayoritas proyek ini hampir selalu sama. Mereka membangun bisnis dengan membayar teknisi, menyubsidi likuiditas, dan mendanai audit keamanan menggunakan token buatan mereka sendiri. Begitu harga altcoin anjlok 70% hingga 90%, landasan pacu keuangan mereka lenyap tak bersisa.
Tally menjadi contoh paling mencolok dari rapuhnya model ini. Platform tata kelola DAO yang menopang operasi Uniswap, Arbitrum, dan ENS ini memproses pembayaran di atas $1 miliar dan menjaga aset senilai $80 miliar. Kendati menopang nama-nama besar, Tally tetap tutup karena model bisnis modal venturanya tidak lagi layak dipertahankan. Kasus serupa menimpa Everclear. Protokol penyelesaian lintas rantai ini terpaksa menghentikan operasinya, padahal mereka mencatat volume bulanan stabil di angka $500 juta.
Kenapa Layer-2 Ikut Tersapu?
Ekosistem layer-2 Ethereum yang sempat meledak pada 2023 akibat biaya pengembangan murah kini menghadapi seleksi alam ketat. Konsolidasi besar terjadi karena terlalu banyak jaringan generik bermunculan tanpa fungsi pembeda. CEO Espresso Systems, Ben Fisch, menilai industri ini dipenuhi proyek layer-2 serba guna yang tidak masuk akal dari sisi produk.
Pendiri bersama Celo, Marek Olszewski, melihat pembersihan ini sebagai tanda mematangnya industri kripto. Imbas langsungnya terlihat pada arus pendanaan. Menurut CEO Chainway Labs, kucuran investasi baru kini mengalir jauh lebih lambat dan selektif. Modal hanya masuk ke entitas yang mampu membuktikan model bisnis mereka sehat. Proyek yang lalai menjaga kas langsung tumbang, seperti pelacak portofolio Solana, Step Finance. Proyek ini tutup setelah kehilangan 261.854 SOL senilai sekitar $35 juta akibat serangan phishing pada dompet eksekutif mereka.
📌 Baca JugaX Hapus Program Monetisasi Kreator - 8 September Jadi Awal Mula Sistem Baru yang Syaratnya Masih Gelap
Uang yang Tak Bisa Pulang
Penutupan ratusan entitas ini memakan korban nyata di level ritel. Nick Puckrin dari Coin Bureau memproyeksikan bahwa untuk setiap proyek yang beritanya mencuat, ada 10 proyek lain yang diam-diam menutup pintu operasi mereka.
Saat Moonbeam, jaringan parachain Polkadot, tutup permanen pada 31 Juli lalu, dampaknya seketika terasa. Pengguna yang telat mengetahui kabar ini dan belum memindahkan aset mereka ke luar jaringan akhirnya terjebak tanpa jalan keluar. Kasus Moonbeam menjadi pengingat pahit. Saat pengembang kehabisan kas dan menyerah, pengguna eceran selalu menjadi pihak terakhir yang menelan kerugian dari token tak bernilai di dalam dompet mereka.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




