Bank of Russia merilis data penegakan hukum untuk paruh pertama 2026, mencatatkan 2.600 dompet kripto ke dalam sistem informasi mereka. Basis data ini terhubung langsung dengan lembaga perbankan dan aparat penegak hukum Rusia untuk mengawasi aliran dana mencurigakan.
Bank sentral tidak membekukan aset langsung di jaringan blockchain. Mereka menargetkan titik keluar-masuk dana dengan menandai rekening perbankan, pemroses pembayaran, dan jalur penukaran uang fiat ke kripto di dalam wilayah hukumnya. Tindakan penandaan itu berujung pada pembatasan akses terhadap lebih dari 500 rincian pembayaran yang terkait aktivitas keuangan ilegal.
Tren Ponzi Menurun, Rentenir USDT Muncul
Aparat penegak hukum Rusia juga membuka lebih dari 330 kasus administratif selama enam bulan pertama tahun ini. Mereka memutus akses publik ke 11.800 situs web yang dioperasikan oleh pelaku pasar gelap dan penyelenggara skema Ponzi. Angka kejahatan ini memperlihatkan tren penurunan bila dibandingkan dengan data historis bank sentral.
Pada 2024, Bank of Russia melacak 3.490 entitas Ponzi, lalu menandai 4.600 dompet kripto sepanjang 2025. Memasuki paruh pertama 2026, jumlah entitas ilegal yang teridentifikasi turun 31% menjadi 2.891 pihak. Ketergantungan para penipu pada kripto untuk menarik dana korban juga menyusut, dari 84% pada tahun lalu menjadi 74% tahun ini.
Satu anomali justru muncul di sektor pinjaman gelap. Para pemberi pinjaman ilegal di Rusia kini mulai menyalurkan utang langsung dalam bentuk stablecoin USDT Tether. Jumlah rentenir tak berizin yang terlacak melonjak dua kali lipat menjadi 999 pihak, dari 467 pihak pada periode yang sama tahun lalu.
๐ Baca JugaSEC Buka Jalur Legal $75 Juta untuk Proyek Kripto - Tapi Aturan Ini Cuma Seperatus dari Total Airdrop 2025
Dua Standar untuk Satu Aset
Pengawasan berlapis di level domestik berjalan kontras dengan kebijakan luar negeri Moskow. Pada akhir 2024, pemerintah Rusia resmi melegalkan penggunaan kripto untuk penyelesaian pembayaran lintas batas. Aturan baru itu memberi izin bagi perusahaan-perusahaan Rusia untuk memakai aset digital dalam transaksi perdagangan internasional.
Rusia menjadikan kripto sebagai solusi untuk melewati jaringan sistem perpesanan SWIFT yang memblokir entitas bisnis mereka. Perdagangan aset digital lintas batas memungkinkan bisnis internasional negara itu tetap berjalan tanpa terkena sanksi Barat. Pola regulasi ini mencerminkan arsitektur kebijakan yang disengaja: kripto diawasi ketat sebagai ancaman stabilitas di dalam negeri, namun didorong menjadi senjata ekonomi saat berhadapan dengan dunia luar. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Pangeran Abu Dhabi Kuasai 49% Bank Kripto Trump - Jejak Dana Mengalir Lewat StringZ Holding
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




