Regulator derivatif Amerika Serikat tak lagi menunggu restu dari Kongres. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) maju selangkah dengan menyerahkan dokumen draf awal berjudul “Regulation Crypto Asset Transactions and Regulation Crypto Asset Markets” langsung ke Kantor Informasi dan Urusan Regulasi (OIRA) Gedung Putih.
Dokumen pengajuan itu resmi diterima oleh OIRA pada 17 September 2026. Saat ini statusnya tercatat sebagai “prerule”. Fase prerule merupakan tahapan paling awal dalam seluruh proses penyusunan peraturan, jauh sebelum draf regulasi dipublikasikan resmi ke ranah publik.
Isi Aturan Masih Menjadi Misteri
Karena masih berstatus draf awal, teks spesifik dari regulasi itu belum dibuka ke luar. Sampai saat ini, rincian pasti mengenai poin-poin yang diatur di dalam dokumen itu sepenuhnya belum diketahui oleh masyarakat umum maupun pelaku industri.
CFTC sudah memetakan rencana untuk merumuskan aturan yang memberi ruang bagi pendaftar lama sekaligus bursa kripto yang selama ini belum terdaftar. Regulator itu merancang kerangka hukum agar para pelaku usaha bisa beroperasi sah di bawah pengawasan yang mereka bangun sendiri.
Langkah CFTC menuju Gedung Putih tiba persis setelah RUU CLARITY Act kandas di Senat. Pemungutan suara berujung pada angka 50-49, gagal mencapai ambang batas 60 suara yang disyaratkan untuk menutup perdebatan atau cloture demi meloloskan aturan itu.
Imbas kekalahan itu langsung terasa. Senator Cynthia Lummis, negosiator utama untuk CLARITY Act, terang-terangan menyebut peluang undang-undang itu untuk disahkan nyaris mati total di sisa tahun ini. Meski demikian, sejumlah senator dari kubu Demokrat maupun Republik mengisyaratkan niat mereka untuk terus mengangkat isu regulasi kripto menjelang pemilihan umum sela.
Sikap Keras Sejak Agustus
Keputusan CFTC merumuskan regulasi baru bukanlah reaksi sesaat akibat mandeknya perdebatan politisi. Ketua CFTC Michael Selig sudah melontarkan peringatan jauh hari. Dalam pidato di konferensi Komite Penasihat Inovasi CFTC pada 20 Agustus, Selig menegaskan lembaganya akan memakai kewenangan hukum yang ada jika CLARITY Act berujung buntu.
๐ Baca JugaPengecualian Aturan SEC Wajibkan Token Saham Punya Hak Suara - Koin Sintetis Resmi Dicoret
Pernyataan itu segera direalisasikan. Sehari setelah hasil voting Senat keluar pada 16 September, Selig menulis pesan singkat di platform X bahwa lembaganya “locked in and ready to ship” atau siap merilis aturan kripto, murni berbekal kekuatan hukum yang sudah mereka pegang.
Manuver berjalan tanpa undang-undang ikut menular antar lembaga. Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Paul Atkins juga menyuarakan nada serupa, menekankan bahwa regulator yang dipimpinnya akan terus maju mengatur pasar dengan atau tanpa adanya legislasi baru dari Senat.
Bagi bursa kripto yang menanti kepastian, dokumen di meja OIRA mengubah arah kebijakan. Nasib operasional mereka kini bergantung pada draf aturan buatan agensi, bukan lagi pada proses lobi panjang para politisi.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Voting CLARITY Act Gagal 50-49 di Senat - Tapi Senator Dua Partai Siapkan Rencana Susulan
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




