📅 Jumat, 24 Juli 2026 · --:-- WIB Ikuti kami
Ecosystem
ID
Sindikat Scam Asia Tenggara Kuras Korban $114 Miliar Setahun - Dan Polisi Masih Buta Lacak Kriptonya

Sindikat Scam Asia Tenggara Kuras Korban $114 Miliar Setahun - Dan Polisi Masih Buta Lacak Kriptonya

📚 Istilah di Artikel Ini:

Angka kerugian dari kejahatan penipuan di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menembus batas baru. Laporan UNODC yang dirilis Selasa, 22 Juli 2026 mencatat kerugian gabungan dari wilayah ini mencapai kisaran $88,3 miliar hingga $114,1 miliar hanya sepanjang tahun 2025. Skala uang yang dirampok ini bahkan telah melampaui pendapatan domestik bruto dari beberapa negara di kawasan itu.

Semua perputaran uang bernilai miliaran dolar ini mayoritas mengandalkan jaringan kripto. Operasi penipuan bernilai tinggi seperti pig butchering dan penipuan asmara disamarkan ujung ke ujung melalui pencucian uang on-chain. Masalah besarnya ada pada aparat hukum. Polisi di kawasan ini masih kekurangan pelatihan untuk bisa mengikuti jejak aliran dana yang bersembunyi di balik konteks kripto baru ini.

Korporasi Penjahat dengan Departemen Khusus

Jaringan ini tidak lagi bekerja seperti sindikat pinggiran. Perwakilan Regional UNODC, Delphine Schantz, menyebut model operasi mereka kini menyerupai waralaba korporasi tingkat tinggi. Sindikat ini membangun departemen khusus yang masing-masing mengurus pencucian uang, perdagangan manusia, hingga unit pemanenan data. Di dalam tembok kompleks penipuan ini, orang dari sedikitnya 80 negara teridentifikasi disekap dan dieksploitasi sebagai buruh paksa.

Skala manipulasi korbannya pun makin canggih berkat dukungan teknologi. Laporan mencatat penggunaan deepfake, kecerdasan buatan generatif, serta pembajakan jaringan iklan sah atau malvertising melesat 42% year-on-year pada 2025. Sindikat ini juga memutus jejak pelacakan lokal. Operasi mereka sering kali berjalan mandiri tanpa infrastruktur telekomunikasi negara setempat karena memakai koneksi internet satelit seperti Starlink.

Bagaimana Mereka Terus Lolos?

Kelompok penipu ini selalu memindahkan rute logistik dan basis operasi saat aparat mulai mengetatkan pengawasan. Laut Sulu dan Celebes yang membentuk segitiga perairan Indonesia-Malaysia-Filipina kini disebut sebagai koridor penyelundupan baru yang volume pergerakannya terus meningkat.

Hari Hacker di DeFi: Tiga Jembatan Kripto Dibobol $35,5 Juta dalam Hitungan Jam📌 Baca JugaHari Hacker di DeFi: Tiga Jembatan Kripto Dibobol $35,5 Juta dalam Hitungan Jam

Pekan lalu, jaksa di Amerika Serikat menyita lebih dari $25 juta aset kripto yang terkait penipuan asmara dan investasi yang dialirkan lewat kawasan ini. Skala kejahatan tanpa batas ini membuat Interpol resmi menetapkan jaringan penipuan kompleks ini sebagai ancaman global. Dalam satu pengungkapan penting, Chen Zhi yang diduga sebagai bos Prince Group ditangkap di Kamboja dan sedang menunggu proses ekstradisi ke China - penangkapan yang turut mencatat salah satu penyitaan Bitcoin terbesar dalam sejarah.

Menutup satu kompleks operasi tidak berarti mematikan urat nadi seluruh jaringan. Direktur Eksekutif UNODC, Monica Juma, mengingatkan bahwa jaringan ini terbukti fleksibel, persisten, dan mudah beradaptasi. Mereka bisa memindahkan logistik melintasi perbatasan dan melanjutkan operasi dengan cepat setelah markas digerebek polisi. Selama aparat kepolisian lambat mengejar pelacakan on-chain, perburuan ini akan terus tertinggal satu langkah di belakang para pencuci uang.

Dilansir dari Decrypt.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.

Gimana reaksimu?
Bagikan artikel ini:
📩 KABAR BITCOIN 1 MENIT

Berita kripto harian, langsung ke inbox

Ringkasan 1 menit untuk kamu yang selalu bergerak. Gratis, kapan saja bisa berhenti.

Total
0
Share