Standard Chartered dan HSBC menyelesaikan transaksi lintas batas pertama yang berjalan langsung di atas blockchain ledger milik Swift. Peristiwa ini melibatkan pertukaran pesan pembayaran antara dua bank itu lewat jaringan Swift, sementara pencatatan kewajibannya ditampung dalam dua wadah: Tokenised Deposit Service milik HSBC dan infrastruktur deposito tokenisasi StanChart.
Namun perombakan infrastruktur ini tidak membuang sistem lama yang sudah mapan.
Orkestrasi Baru di Atas Jalur Konvensional
Alih-alih mengambil alih seluruh proses, ledger blockchain Swift di sini memegang peran spesifik sebagai lapisan orkestrasi. Sistem ini bertugas mencocokkan dan menghitung selisih kewajiban antar bank di tahap awal. Ketika transaksi berlanjut ke tahap penyelesaian akhir, eksekusinya tetap mengalir melewati sistem pembayaran konvensional yang ada saat ini. Desain jembatan ini sengaja dirancang untuk menghubungkan deposito tokenisasi yang tersebar di beragam infrastruktur bank berbeda.
Dampak utamanya langsung mengubah efisiensi waktu: sistem pembayaran lintas negara kini beroperasi 24 jam penuh tanpa jeda. Bagi Swift yang duduk sebagai jaringan pesan keuangan dominan di dunia, langkah ini adalah pergeseran infrastruktur esensial. Jaringan ini meluncurkan ledger berbasis blockchain-nya pada Juli 2026 dengan merangkul partisipasi dari 17 bank yang mewakili enam benua berbeda.
Siapa Lagi yang Mengantre di Balik Layar?
Daftar peserta yang tergabung dalam tahap percontohan Swift memuat nama besar seperti Citi, BNP Paribas, BNY, Wells Fargo, UBS, MUFG, DBS, hingga ANZ. Medan persaingan deposito tokenisasi antar bank makin padat. HSBC sudah menyusun rencana ekspansi Tokenised Deposit Service sejak November 2025. Ekspansi itu mendarat di pasar korporat Amerika Serikat pada April 2026, ditambah target perluasan ke Uni Emirat Arab pada paruh pertama tahun ini.
๐ Baca JugaNeuberger Berman Bawa Obligasi ke 4 Blockchain - Manuver Baru Incar Yield Tinggi
StanChart pun memiliki proyek paralel di ranah yang sama. Pada Juli 2026, bank ini merampungkan uji coba Project Agorรก yang dipandu Bank for International Settlements (BIS). Uji coba itu memproses perpindahan dana $1 juta melintasi enam mata uang berbeda. Transaksi ini diselesaikan berkat perpaduan antara deposito bank komersial bertoken dan cadangan bank sentral.
Aturan Main Waktu Mulai Berubah
Gelombang adopsi blockchain oleh institusi perbankan terus melebar. The Clearing House, lembaga kliring milik gabungan bank besar Amerika Serikat, dilaporkan bersiap meluncurkan jaringan deposito tokenisasi mandiri mereka pada paruh pertama 2027. Bagi perusahaan multinasional yang rutin menggeser dana, rentetan terobosan ini menyelesaikan satu kendala paling kuno: transaksi antar benua kini terbebas dari jadwal buka bank koresponden. Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




