Strategy menjual 18,26 juta saham MSTR antara 17 hingga 23 Agustus 2026 melalui program at-the-market, menghasilkan uang tunai sekitar $2 miliar. Meski mendapat suntikan modal baru, perusahaan menahan diri dan sama sekali tidak membeli Bitcoin selama periode satu minggu itu.
Hingga akhir pekan, total simpanan kripto mereka tetap terkunci pada angka 840.447 BTC. Kumpulan aset ini dibeli di harga rata-rata $75.385 per koin, membuat nilai total cadangan Bitcoin perusahaan mencapai $63,36 miliar. Alih-alih melempar modal baru ke pasar, Strategy memilih merakit kantong likuiditas baru bernama “USD Cash”.
Per 23 Agustus, akun USD Cash ini sudah terisi dana segar senilai $1,59 miliar. Ini bukan sekadar brankas penyimpan uang biasa, melainkan amunisi likuid yang sengaja disiapkan untuk eksekusi cepat.
Dua Aturan Main Berbeda
Kantung likuiditas baru ini memiliki peran yang jauh berbeda dari USD Reserve senilai $5,1 miliar yang sudah lebih dulu ada. Selama ini, aliran dana di USD Reserve dibatasi aturan kaku, hanya boleh dipakai membayar dividen preferen dan beban bunga utang. Sebaliknya, USD Cash beroperasi sebagai kolam dolar tanpa ikatan khusus.
Tanpa batasan kaku, perusahaan bisa memakai dana $1,59 miliar ini untuk berbagai aksi taktis. Uang ini bebas dipakai memborong Bitcoin, membayar dividen jika mendesak, membeli kembali saham MSTR atau saham preferen di bursa, hingga melunasi obligasi konversi. Manajemen menyebut akun ini memberi mereka kelincahan bereaksi cepat terhadap dinamika pasar.
Manajemen menyatakan uang ini menjadi penyangga utama jika muncul dislokasi harga mendadak di pasar Bitcoin atau pada sekuritas Strategy sendiri. Strategi mereka terbaca lugas: jual saham saat harganya tinggi, kumpulkan kas tunai, lalu tunggu celah momentum yang pas untuk kembali mengakumulasi Bitcoin.
Manuver Triliunan Dolar dari Pemerintah
Keputusan menumpuk uang tunai ini terjadi bersamaan dengan tren harga pasar yang mendorong Bitcoin menembus $78.000 pekan ini. Kenaikan harga ini langsung mengerek portofolio aset Strategy, mengembalikan pembukuan perusahaan ke zona profit setelah terus tertekan sepanjang musim panas lalu.
๐ Baca JugaVivek Ramaswamy Guyur $85 Juta ke Bitcoin Lewat Strive - Bukti Kubu Politik AS Tak Lagi Cuma Omong Kosong
Lonjakan harga Bitcoin ini ditopang alasan fundamental di balik layar. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dilaporkan berpeluang menarik hampir $1 triliun dari Treasury General Account. Dana masif ini rencananya dipakai membeli kembali obligasi jangka panjang pemerintah.
Potensi suntikan likuiditas ke sistem perbankan ini langsung ditangkap investor sebagai sinyal positif. Rencana ini menjadi salah satu pendorong utama yang melambungkan harga Bitcoin, memberi bahan bakar baru bagi seluruh ekosistem aset kripto.
Ketika banyak pihak ikut euforia mengejar harga, Strategy mempertahankan ritmenya. Kantong likuiditas $1,59 miliar sudah siap di tangan, tinggal menunggu pasar memberi celah sedikit saja untuk menekan pelatuk pembelian. Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




