Vitalik Buterin mengambil posisi yang berseberangan dengan arus modal industri teknologi. Co-founder Ethereum itu membela gerakan penolakan terhadap pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) berskala besar, saat para penambang Bitcoin justru mengalihkan infrastruktur listrik mereka demi meraup puluhan miliar dolar dari bisnis sewa komputasi.
Kesenjangan sudut pandang tampak jelas antara kekhawatiran filosofis soal keselamatan teknologi dan dorongan bisnis para penambang koin.
Jeda Demi Keamanan dan Efisiensi Algoritma
Lewat unggahannya pada 8 November 2026, Buterin berargumen bahwa melambatnya laju ekspansi pusat data AI membawa dampak positif bersih bagi masyarakat. Menurutnya, jeda waktu dari penundaan proyek fisik memberi ruang bagi peradaban manusia untuk memperkuat pertahanan keamanan siber dan menekan potensi risiko biologis yang bisa muncul akibat sistem AI canggih.
Pertimbangan lain bertumpu pada perkembangan perangkat lunak. Buterin meyakini peningkatan efisiensi algoritma bakal memungkinkan perangkat keras komputasi yang ada saat ini menjalankan berbagai tugas canggih di masa depan. Dalam pandangannya, industri tidak harus terus membangun kompleks fisik tambahan hanya untuk mengejar kapasitas daya komputasi mentah.
Lego Cadangan Bitcoin Demi Menampung AI
Argumen Buterin bertolak belakang dengan arah pergerakan korporasi penambang kripto publik. Sejumlah perusahaan tambang kini giat menyewakan lahan dan kapasitas daya listrik mereka ke penyedia infrastruktur AI. Riot Platforms, misalnya, mengumumkan kontrak sewa kapasitas komputasi sebesar 910 megawatt (MW) selama 15 tahun di Corsicana, Texas. Kontrak tunggal itu membawa potensi pendapatan hingga $28 miliar.
Langkah di Corsicana mengerek total kapasitas pusat data terkontrak milik Riot menjadi 1.151 MW, dengan proyeksi pendapatan jangka panjang mencapai $38 miliar. Demi mendanai proyek ekspansi fisik itu, Riot menjual 20.264 Bitcoin sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026 dan mengumpulkan likuiditas tunai sekitar $1,5 miliar.
Pemain tambang lain seperti Cipher Digital juga menempuh jalur serupa. Perusahaan itu mulai membukukan pendapatan perdana dari sewa komputasi berkinerja tinggi di Black Pearl, serta memperpanjang kontrak sewa fasilitas Barber Lake menjadi 20 tahun dengan estimasi pendapatan $9,1 miliar dan rencana kapasitas hingga 5,9 gigawatt.
๐ Baca JugaSEC Buka Jalur Saham Token - 67 Emiten AS Termasuk Apple dan Meta Tolak Proposal OKX
Batas Beban Listrik dan Moratorium Texas
Laju konversi fasilitas listrik ini tidak berjalan mulus di lapangan. Pertumbuhan pusat data memicu penolakan keras dari warga sekitar dan pejabat setempat akibat lonjakan beban konsumsi listrik serta kebutuhan air pendingin. Tekanan publik itu mendorong Gubernur Texas Greg Abbott mengeluarkan arahan moratorium izin proyek pusat data baru sejak 21 September.
Dua kutub ini menyodorkan kenyataan yang kontras. Saat Buterin mengingatkan perlunya waktu henti untuk membenahi sistem keamanan dan mematangkan algoritma, modal miliaran dolar dari likuidasi simpanan Bitcoin sudah terlanjur mengalir ke beton dan turbin pendingin. Tarik ulur antara daya dukung jaringan utilitas warga dan kebutuhan komputasi kini menjadi ujian nyata bagi kedua industri.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: SEC Buka Jalur Saham Token - 67 Emiten AS Termasuk Apple dan Meta Tolak Proposal OKX
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




