Penerbit stablecoin USDC, Circle, bersiap masuk ke sekitar 40 pasar negara berkembang dan ekonomi bertumbuh. Rencana ekspansi global ini diungkapkan langsung oleh CEO Circle Jeremy Allaire di sela pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok.
Allaire menyatakan bahwa teknologi blockchain saat ini sedang beralih dari fase pengguna awal (early adopter) menuju fase penskalaan arus utama (mainstream scaling). Pergeseran tersebut menuntut ketersediaan infrastruktur dolar digital yang stabil untuk melayani kebutuhan transaksi riil masyarakat dunia di luar aktivitas spekulasi pasar.
Menutup Selisih dari Pangsa Pasar 60% Milik Tether
Target ekspansi ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. Keempat wilayah itu mencatat lonjakan permintaan organik dari individu maupun pelaku usaha yang membutuhkan akses langsung ke ekonomi digital berbasis internet.
Di pasar stablecoin global, pangsa pasar USDC saat ini berada di kisaran 25% dengan kapitalisasi beredar $73,3 miliar pada kuartal kedua, naik 19% dibanding periode yang sama tahun lalu. Posisi puncak masih dikuasai oleh USDT terbitan Tether yang memimpin persaingan dengan porsi sekitar 60%.
Modal Setengah Miliar Dolar dan Piagam Perbankan AS
Rencana menjangkau puluhan negara baru ditopang oleh kekuatan modal hasil aksi korporasi. Circle telah menyelesaikan akuisisi platform pembayaran Tazapay senilai $400 juta, selain mengantongi investasi strategis sebesar $100 juta dari Binance.
Dari aspek regulasi di Amerika Serikat, Circle telah mengamankan piagam perbankan federal pada Juli lalu dan mengajukan piagam perwalian New York. Circle juga bersiap menyambut berlakunya GENIUS Act pada Januari mendatang, undang-undang yang dinilai Allaire sebagai tonggak bersejarah pengakuan resmi terhadap dolar digital legal di tingkat federal.
Ketika Agen AI Mulai Membayar Sendiri
Selain membidik transaksi ekonomi antarmanusia, Circle memperluas adopsi jaringan Arc. Jaringan khusus ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi mikro mandiri antarmesin yang dijalankan langsung oleh agen kecerdasan buatan (AI).
Infrastruktur itu kini mulai digunakan oleh institusi keuangan global seperti BlackRock, Visa, dan Standard Chartered guna mendukung lalu lintas pembayaran otomatis antarsistem.
๐ Baca JugaRipple Tautkan RLUSD ke Sistem Inti Bank AS - Akses Awal Masih Dibatasi Negara Bagian Tertentu
Bagi pelaku usaha dan pengembang di pasar berkembang, langkah Circle menandai babak baru fungsi stablecoin: bukan lagi sekadar alat lindung nilai dari volatilitas mata uang lokal, melainkan rel pembayaran bagi agen cerdas yang beroperasi tanpa henti.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




