Saham Datavault AI (DVLT) anjlok 49,55% dan ditutup di level $0,067 per lembar pada perdagangan Selasa, diiringi volume transaksi sekitar 244 juta saham. Tekanan jual memuncak setelah dokumen keterbukaan informasi perusahaan mengungkap bahwa Datavault tidak dapat menarik simpanan Bitcoin miliknya dari bursa kripto Biconomy sejak Juni 2026.
Saldo koin yang tertahan itu semula disiapkan manajemen sebagai sumber likuiditas untuk mendanai operasional bisnis. Tanpa kepastian penarikan dan belum adanya tanggapan dari pihak bursa, rencana kas perusahaan kini harus dievaluasi ulang dari awal.
Jejak Transfer Off-Chain Bernilai $150 Juta
Pangkal persoalan bermula dari kesepakatan bisnis pada September 2025 antara Datavault dan Scilex Holding Company. Dalam perjanjian itu, Scilex setuju membeli saham serta waran Datavault senilai $150 juta dengan pembayaran menggunakan Bitcoin.
Sebagai realisasi pembayaran, Scilex mengkreditkan 1.309,04 BTC ke akun Datavault di bursa Biconomy. Pengiriman dana tidak berjalan lewat transaksi langsung di jaringan blockchain, melainkan melalui transfer off-chain - mekanisme pembukuan internal antar-akun di dalam sistem bursa. Biconomy sendiri memegang peran ganda dalam pusaran transaksi ini. Sebelum memfasilitasi Datavault, bursa itu bertindak sebagai perantara penyedia Bitcoin bagi Scilex: Scilex menjual saham anak perusahaannya, Semnur, senilai $200 juta ke Biconomy demi memperoleh pasokan Bitcoin yang kemudian diserahkan ke Datavault.
Hubungan transaksi sempat berjalan ketika Datavault menjual kembali 491,4 BTC kepada Scilex untuk mencairkan dana tunai sekitar $40,5 juta. Masalah baru mencuat saat sisa simpanan Bitcoin hendak dipindahkan ke luar bursa.
Penarikan Gagal dan Koreksi Aset $92 Juta
Pada Juni 2026, Datavault mengajukan permintaan penarikan sisa Bitcoin dari akun Biconomy menuju dompet kustodi eksternal milik perusahaan. Pengajuan transfer gagal dieksekusi oleh pihak bursa. Hingga laporan keterbukaan informasi resmi diajukan pada hari Senin, status penarikan aset belum terselesaikan dan Biconomy tidak memberikan respons.
Buntut dari macetnya penarikan dana, Datavault terpaksa mengubah perlakuan akuntansi dalam laporan keuangannya. Manajemen menyatakan simpanan Bitcoin di Biconomy seharusnya tidak dicatat sebagai kepemilikan aset kripto langsung, melainkan diklasifikasikan sebagai piutang Scilex atas saham yang mengurangi nilai ekuitas pemegang saham.
Perubahan status pembukuan memicu dampak langsung pada neraca keuangan. Datavault memperkirakan koreksi akuntansi ini memangkas nilai aset perusahaan sebesar $92,2 juta pada laporan akhir tahun 2025, disusul pengurangan aset sekitar $49 juta untuk periode Juni 2026.
๐ Baca JugaVanEck Rilis ETF Campuran di NYSE dengan Porsi Bitcoin - Sebut Formula Klasik 60/40 Ketinggalan Zaman
Bagi para pemegang saham, kabar ini menjadi pengingat nyata mengenai risiko aset kripto yang hanya tercatat di pembukuan internal bursa tanpa penguasaan mandiri. Selama saldo belum berpindah ke dompet kustodi eksternal dan bursa tetap bungkam, klaim jutaan dolar atas Bitcoin itu terbukti rapuh di atas kertas.
Dilansir dari CoinDesk.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




