Sandy Kaul, kepala digital assets dan inovasi Franklin Templeton, merilis esai lebih dari 1.800 kata di platform X pada Rabu, 22 Juli 2026 yang menetapkan agen AI otonom sebagai kegunaan utama berikutnya bagi teknologi blockchain. Kaul membedah kelemahan infrastruktur lama: jaringan kartu konvensional saat ini tidak cocok untuk aktivitas pembayaran agen karena mematok biaya operasional tinggi dan menunda penyelesaian transaksi 1 hingga 3 hari kerja.
Kondisi lambat ini bertolak belakang dengan tuntutan kecepatan pertukaran data antarmesin. Oleh karena itu, Kaul menilai ekosistem seperti Aptos, Solana, dan BNB Chain jauh lebih ideal untuk mengambil alih jalur pembayaran ini karena memegang kapasitas menyelesaikan kepingan transaksi dalam hitungan detik.
Kenapa Sistem Konvensional Dinilai Tertinggal
Kelemahan sistem lawas ini diakui terbuka oleh para penerbitnya. Laporan bersama antara Visa dan firma analitik Artemis yang diterbitkan Rabu lalu mengungkap bahwa jaringan kartu tradisional memang dirancang untuk transaksi manusia dengan frekuensi yang rendah. Arsitektur dasar semacam ini tidak mumpuni untuk menopang volume lalu lintas agen AI yang mutlak beroperasi di atas infrastruktur berbiaya nyaris nol.
Para penyedia kartu tentu mencoba menutup jarak kecepatan ini. Divisi kripto Visa serta Tempo, platform pembayaran yang didukung Stripe, meluncurkan alat AI khusus pada bulan Maret lalu. Terobosan dari Visa ini membuka celah bagi agen AI untuk mengeksekusi pembayaran pada hari yang sama. Namun, batasan waktu penyelesaian harian masih menjadi kendala bagi perangkat lunak otonom yang biasa mengeksekusi ribuan instruksi jaringan per detiknya.
Pergeseran Investasi ke Arah Jaringan
Di sudut lain, ruang kripto sudah mencatat adopsi mesin yang konkret. Hal ini terbukti dari aktivitas protokol x402 buatan Coinbase yang mencetak volume pembayaran tersesuaikan senilai $15 juta yang padat tersebar di lebih dari 109 juta transaksi. Angka yang terekam sejak peluncurannya pada Mei 2025 ini mendemonstrasikan bahwa buku besar terdesentralisasi sanggup memfasilitasi pertukaran dana skala kecil tanpa friksi berarti.
Catatan awal ini selaras dengan hitungan Kaul soal ledakan nilai ekonomi agen AI. Ia meyakini pertumbuhan populasi perangkat otonom akan memicu besarnya permintaan pasar terhadap blockchain yang khusus memfasilitasi pembayaran mikro antarmesin. Pola ini memaksa kelompok modal untuk menimbang ulang satu hal: apakah panduan investasi klasik lewat kepemilikan saham korporasi AI masih bisa diandalkan?
📌 Baca JugaMalaysia Cabut Paksa Izin Network School Balaji - Hitungan Jam Kemudian Kazakhstan Tawarkan MoU Kampus Baru
Arus modal agen otonom perlahan beralih ke saluran terdesentralisasi yang jauh lebih mulus. Jika tren otonomi finansial kecerdasan buatan terus bergulir, entitas penyedia infrastruktur pembayaran blockchain berada di barisan terdepan untuk meraih keuntungan ketimbang perusahaan pembuat mesinnya.
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




