Dompet kripto yang terhubung dengan kelompok peretas Lazarus Group asal Korea Utara diketahui telah mencairkan Bitcoin senilai lebih dari $30 juta melalui bursa Hyperliquid. Pola pencairan ini berlangsung berulang selama tiga minggu terakhir. Dana hasil penjualan Bitcoin itu tidak dibiarkan diam, melainkan langsung digunakan untuk membeli dua koin utama lain, yakni Ethereum dan Solana. Koin baru inilah yang kemudian dikirim ke tiga bursa terpusat besar: Kraken, LBank, dan KuCoin.
Identifikasi aliran uang ini bukan temuan mendadak. Rangkaian alamat transaksi yang dipakai pelaku pertama kali diungkap ke publik oleh investigator on-chain ZachXBT pada awal 2024. Perusahaan analitik Arkham kemudian menindaklanjuti temuan itu, mencocokkan datanya, lalu melabeli alamat-alamat itu sebagai milik Lazarus. Rekam jejak kelompok ini sudah panjang: mereka berstatus organisasi siber di bawah kendali pemerintah Korea Utara yang menerima sanksi langsung dari Departemen Treasury AS, serta terhubung dengan kasus pencurian $625 juta dari Ronin Network pada 2022.
Waktu Terburuk untuk Melobi Amerika
Sebagai platform desentralisasi, Hyperliquid memproses volume perdagangan harian menembus $4 miliar dan sepenuhnya mengandalkan dompet kripto yang tidak mewajibkan proses KYC konvensional. Lolosnya dana pihak tersanksi di platform semacam ini tidak serta-merta membuktikan pihak Hyperliquid punya niat membantu atau bahkan mengetahui aktivitas sang peretas.
Namun, aliran uang gelap Lazarus ini melintas persis saat Hyperliquid bersama Kraken dan Payward tengah menggelar negosiasi lanjutan dengan para regulator. Mereka sedang melobi pihak berwenang untuk membawa platform bursa desentralisasi ini masuk ke pasar Amerika Serikat. Jejak transaksi uang hasil peretasan dari aktor negara seperti Korea Utara di jaringan mereka praktis membuat proses perizinan AS itu berubah makin menantang.
Sistem Penahan di Pintu Bursa
Sementara keputusan izin masih dipertaruhkan, bursa penerima akhir kini merapatkan penjagaan. Kraken, yang menjadi salah satu tujuan akhir aliran dana Ethereum dan Solana milik Lazarus, menegaskan posisi mereka. Manajemen bursa menyatakan terus memantau setiap pergerakan janggal di blockchain, dan sistem mereka sudah dirancang untuk memblokir aset yang mengalir dari daftar alamat sanksi sebelum dana itu sempat dicairkan.
๐ Baca JugaDua Pemuda Australia Curi 500.000 Kredensial Lewat Kode Terbuka - Kini Berhadapan dengan FBI dan Ancaman Ekstradisi
Bagi Lazarus, memutar aset dari Bitcoin ke altcoin lalu memecahnya ke berbagai bursa hanyalah langkah standar untuk mengaburkan jejak. Tapi bagi platform yang sedang mengejar status legal, aliran uang haram semacam ini menjadi hambatan terberat untuk membuktikan bahwa infrastruktur mereka layak beroperasi di meja regulator.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: SEC Serahkan Draf Kustodian Kripto ke Gedung Putih - Aturan Penyimpanan Aset Digital Segera Berubah
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




