Konsorsium Open USD (OUSD) baru saja mengumpulkan lebih dari 140 perusahaan besar termasuk Visa, Mastercard, BlackRock, Stripe, Shopify, dan Google untuk mengubah tata cara kerja industri stablecoin. Kelompok ini tidak sekadar menerbitkan token baru, melainkan menerapkan model berbagi pendapatan cadangan ke semua perusahaan mitra di dalamnya. Pendekatan ini berlawanan dengan praktik Tether dan Circle yang selama ini menyimpan sendiri seluruh imbal hasil cadangan kas mereka. Dewan tata kelola OUSD juga diisi langsung oleh perwakilan 140 perusahaan mitra itu, bukan dikendalikan oleh korporat tunggal. Langkah kolektif ini langsung berhadapan dengan posisi Tether USDT yang saat ini memegang kapitalisasi pasar sekitar $187 miliar atau 59% dari total pasar. Di tempat kedua, USDC milik Circle menyusul dengan nilai $75 miliar yang setara dengan porsi 24%. Gabungan keduanya menguasai 83% dari total pasokan stablecoin global saat ini.
Tiga Jalur Menuju Arus Pembayaran Utama
Jauh dari pusaran dolar Amerika Serikat, Hong Kong membuka front persaingan baru lewat entitas bernama Anchorpoint Financial. Perusahaan usaha patungan antara Standard Chartered, Animoca Brands, dan HKT ini merilis stablecoin dolar Hong Kong bernama HKDAP. Mereka memisahkan fungsi penerbitan dan distribusi ke entitas berbeda, lalu menunjuk HashKey Exchange dan OSL Group sebagai distributor resmi. HKDAP beroperasi dengan lisensi dari Hong Kong Monetary Authority Stablecoins Ordinance. Uji coba awal token ini sudah berjalan untuk melunasi pembayaran premi asuransi di YF Life, dengan jadwal ekspansi ritel yang ditargetkan meluncur pada akhir 2026.
Integrasi Vertikal di Tengah Tekanan Aturan
Di sudut lain, World Liberty Financial yang terkait dengan keluarga Trump menempuh jalur perbankan konvensional. Entitas ini baru saja mengantongi izin bersyarat OCC national trust bank charter. Lisensi ini mengizinkan mereka membangun integrasi vertikal penuh yang merangkum fungsi penerbitan token, kustodian, hingga perbankan di dalam satu atap hukum. Ketiga pemain ini membawa model bisnis berlainan - OUSD dengan distribusi imbal hasil ke 140 mitra, HKDAP yang memisahkan penerbit dan distributor, serta World Liberty dengan jalur integrasi vertikal penuh. Meski menempuh jalan berbeda, ketiganya bersandar pada satu tesis yang sama: stablecoin yang menang adalah entitas yang paling dalam tertanam di alur pembayaran berjalan, bukan sekadar token dengan nilai tukar paling solid.
Siapa yang Paling Terancam?
Pergeseran strategi ke arah distribusi dan bagi hasil cadangan ini datang di saat yang menantang bagi para pemain lama. Jika undang-undang CLARITY Act lolos membawa usulan aturan imbal hasil stablecoin baru, bursa kripto Coinbase berisiko kehilangan pendapatan penghargaan USDC sekitar $1,35 miliar setiap tahunnya.
Bagi pengguna yang setiap hari memindahkan aset antar bursa, perlombaan adopsi ini memberi kejelasan arah industri ke depan. Ketika sebuah stablecoin sudah menempel langsung di mesin kasir Shopify atau jaringan kartu kredit Visa Anda, pilihan aplikasi dompet Anda tidak lagi dibatasi oleh satu perusahaan penerbit.
๐ Baca JugaBursa Kripto Dilarang Jual Stablecoin Tanpa Lisensi Mulai 2028 - Aturan Teknis GENIUS Act Tutup Celah Geografis
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




