Laporan Bitcoin Policy Institute pada 4 September 2026 menaksir volume transaksi on-chain kripto di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) menyentuh $350 miliar sepanjang 2025 hingga 2026. Walau angka ini berstatus estimasi dari institut yang metodologinya belum dipublikasikan utuh, nilainya melompat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan posisi volume tahun 2022 yang baru menembus kisaran $100 miliar.
Turki memimpin seluruh kawasan dengan membukukan volume transaksi tahunan hampir $200 miliar. Pelemahan nilai tukar lira dan besarnya tekanan inflasi memaksa publik beralih menumpuk Bitcoin dan stablecoin untuk alat simpan nilai sekaligus sarana transfer lintas negara. Rentetan devaluasi mata uang pound Mesir memicu respons identik, membawa aktivitas perdagangan peer-to-peer Bitcoin di sana melesat di atas 300%.
Uang Institusi di Seberang Teluk
Jika negara berinflasi tinggi bertumpu pada kripto eceran, arus modal di negara Teluk digerakkan murni oleh institusi. Arab Saudi mencetak rekor pertumbuhan kripto tercepat di MENA pada level 154% year-on-year, melampaui laju Qatar yang berada di angka 120% merujuk data Chainalysis terbitan September 2024. Manuver Arab Saudi tidak berhenti pada memfasilitasi transaksi harian, melainkan melebar pada pembangunan aplikasi blockchain tingkat lanjut dan sistem tokenisasi energi.
Tingginya penetrasi telepon pintar dan ledakan demografi usia muda memuluskan jalan adopsi teknologi bagi publik Arab Saudi. Uni Emirat Arab mengambil rute paralel dengan mematangkan kerangka kerja Virtual Assets Regulatory Authority (VARA). Susunan regulasi itu dipersiapkan khusus untuk membujuk bursa kripto global, perusahaan perdagangan institusional, hingga platform tokenisasi agar mau beroperasi resmi dari pusat keuangan mereka.
Ujian Ketegangan Geopolitik
Pecahnya konflik antara Israel dan Iran pada Juni 2025 lalu langsung memangkas total kapitalisasi pasar kripto global hingga susut 3,7%. Di bawah tekanan jual regional, harga Ether jatuh 7,5%, namun koreksi Bitcoin tertahan di batas 2,3%.
๐ Baca JugaOpen Interest Altcoin Kalahkan Bitcoin Setelah 21 Bulan - Zcash Jadi Motor Utamanya
Setelah ketegangan militer reda, dominansi Bitcoin atas seluruh pasar aset digital merangsek ke level 64,8%. Angka dominansi itu menutup peta adopsi MENA yang digerakkan oleh dua kubu: uang receh rakyat yang berlindung dari matinya mata uang fiat, dan modal jumbo yang masuk lewat kepastian regulasi. Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




