Mulai 26 Agustus 2026, BitMart akan menghentikan seluruh layanan trading bagi penggunanya, dengan target penutupan operasi sepenuhnya pada 31 Januari 2027. Pengumuman ini langsung memukul pasar internal mereka, membuat token asli BMX kehilangan hampir 70% nilainya dan tergelincir hingga ke bawah level $0,10. Bursa ini mengambil langkah cepat dengan menutup akses pendaftaran pengguna baru dan menolak deposit baru. Untuk aktivitas perdagangan, pasar futures kini dialihkan ke mode reduce-only, sementara pasar spot sepenuhnya berhenti menerima pesanan baru dari pengguna.
Bagi para pengguna yang mencoba menyelamatkan aset mereka, proses penarikan tidak berjalan tanpa hambatan. Sejumlah laporan bermunculan mengenai penundaan penarikan USDT yang memakan waktu berjam-jam. Pihak BitMart menanggapi keluhan ini dengan beralasan bahwa penarikan tertentu memang memerlukan proses tinjauan tambahan. Keputusan untuk mengambil jalur wind-down atau penutupan teratur ini setidaknya menghindari skenario kebangkrutan. Langkah ini diambil beberapa tahun setelah BitMart sempat kehilangan dana $196 juta akibat peretasan besar pada 2021 silam.
Pemecatan Sepihak Sebelum Pengumuman
Di balik langkah penutupan ini, terungkap celah komunikasi di tingkat eksekutif. Mantan CEO BitMart, Nenter Chow, membeberkan kronologi versinya melalui platform X. Chow mengungkap bahwa ia baru diberi tahu mengenai pemecatannya pada hari Jumat, persis sebelum pengumuman penutupan dirilis ke publik. Ia menegaskan tidak pernah dilibatkan maupun diajak berkonsultasi terkait keputusan untuk membubarkan layanan bursa. Sang mantan pemimpin baru mengetahui nasib perusahaannya setelah membaca pengumuman publik bersama para pengguna lainnya.
Apakah Ini Bagian dari Tren Konsolidasi?
Mundurnya BitMart menambah panjang daftar bursa kripto yang mengibarkan bendera putih bulan ini, menyusul langkah serupa dari BitMEX dan Dango. BitMEX sendiri telah menjadwalkan penutupan layanannya pada 23 September mendatang, sebuah keputusan yang membuat nilai token BMEX mereka anjlok 90%. Rentetan kabar ini sempat memicu kebingungan di dalam komunitas kripto berbahasa Mandarin, karena kemiripan nama antara token BMX milik BitMart dan BMEX milik BitMEX membuat banyak orang kesulitan membedakan entitas mana yang sedang tumbang pada hari itu.
Menurut pandangan para analis, bergugurannya platform menengah ini merupakan tanda bahwa konsolidasi industri kripto sedang berlangsung. Pangsa pasar saat ini semakin mengerucut ke tangan pemain dominan. Binance kini memegang sekitar 55% dari total dana pengguna kripto global dan menguasai 24% dari volume perdagangan spot. Ketika aktivitas terpusat pada raksasa tunggal, bursa dengan skala lebih kecil akhirnya memilih jalan keluar teratur ketimbang bertahan.
📌 Baca JugaSberbank Bangun Infrastruktur Kripto Rusia - Di Saat Barat Sibuk Hukum Bursa Asing Penolong Moskow
Dilansir dari Cointelegraph.
Baca juga: Cara Membaca Candlestick untuk Pemula
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




