Data Tracxn mencatat perusahaan blockchain di Asia Tenggara mengumpulkan dana $680 juta sepanjang 2026, naik 113% dari pencapaian $319 juta pada 2025. Namun di balik angka itu, jumlah putaran pendanaan tahun ini justru merosot dari 46 kesepakatan pada 2025 menjadi hanya 25 putaran.
Crypto.com menerima suntikan dana Series D senilai $400 juta dari Citadel Securities pada Juli 2026, yang sendirian menyedot 59% dari total uang masuk kawasan regional. Tanpa putaran tunggal itu, sisa 24 proyek di Asia Tenggara hanya berbagi dana $280 juta. Total kucuran $680 juta tahun ini juga masih berada 69% di bawah rekor tertinggi masa puncak 2022, saat kawasan ini menorehkan angka 206 putaran pendanaan yang bernilai $2,2 miliar.
Uang Mengalir ke Layanan Keuangan dan Singapura
Sektor layanan keuangan kripto memimpin arus investasi tahun ini dengan raihan $498 juta dari 19 kesepakatan, mencatat kenaikan 48,4% dibandingkan tahun lalu. Sektor platform tokenisasi menyusul lewat perolehan $114 juta, diikuti oleh platform aplikasi terdesentralisasi (DApp) yang meraup dana masuk $77 juta.
Dari total 3.957 perusahaan blockchain yang beroperasi di Asia Tenggara, 2.285 entitas bermarkas di Singapura. Negara pulau itu menguasai 82,5% dari pendanaan kumulatif historis regional senilai $6,2 miliar, dengan menyerap modal $5,1 miliar. Jakarta duduk di urutan kedua, tetapi celahnya amat lebar karena ibukota Indonesia ini baru menarik porsi 3% senilai $186 juta. Posisi Singapura juga makin kokoh seiring rencana bursa kripto Coinbase untuk menambah karyawan lokal mereka dari 150 menjadi 200 orang sebelum akhir tahun 2026.
Berapa Banyak yang Mampu Bertahan?
Dari 1.323 perusahaan kripto kawasan Asia Tenggara yang sudah mendapat kucuran investasi ekuitas, hanya 167 entitas yang melangkah maju menembus putaran pendanaan Series A atau lebih tinggi. Penyusutan basis proyek berlanjut pada tahap penggalangan modal berikutnya: hanya 50 perusahaan mencapai tahap Series B, 14 entitas mencapai Series C, dan ujungnya tersisa 4 pemain yang sanggup menembus batas Series D ke atas.
Kawasan Asia Tenggara saat ini memiliki enam unicorn blockchain, yang mencakup nama besar seperti Sygnum, Bitkub, Sky Mavis, dan Amber Group. Bagi para proyek yang mencapai ujung siklus bisnis mereka, jalur akuisisi mendominasi jalan keluar modal dengan catatan 43 transaksi berbanding 4 peluncuran bursa publik (IPO). Di ranah akuisisi korporat, perusahaan layanan keuangan Jepang SBI Holdings merampungkan transaksi pembelian bursa kripto Coinhako pada tahun 2026.
๐ Baca JugaRouter Protocol Menyerah Setelah 4 Tahun - Tutup Total 30 September dan Bakar 303 Juta Token
Angka pendanaan regional $680 juta memang berlipat ganda tahun ini. Namun tanpa suntikan tunggal ke pundi Crypto.com, aliran uang bagi perusahaan menengah di ekosistem Web3 Asia Tenggara belum menyebar merata.
Dilansir dari crypto.news.
Baca juga: Apa Itu DeFi (Decentralized Finance)?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




