Seorang warga Connecticut baru saja kehilangan $200.000 setelah menyetor dana ke platform keuangan desentralisasi (DeFi) offshore tanpa izin. Uang itu dipastikan tidak bisa dipulihkan kembali, memicu Attorney General William Tong dan Banking Commissioner Jorge Perez merilis peringatan konsumen resmi pada 3 September 2026. Korban awalnya terbujuk menempatkan modalnya oleh seseorang yang mengaku sebagai kenalan.
Otoritas setempat memilih untuk tidak mengungkap nama pasti platform yang menelan uang korban. Dokumen peringatan justru membidik lanskap industri yang lebih luas dengan menyebut tujuh entitas sebagai contoh platform DeFi di luar jangkauan pengawasan Amerika Serikat. GMX, Gains Network, dYdX, Aevo, Drift Protocol, Vertex Protocol, dan Hyperliquid tercantum di sana. Connecticut tidak menuduh salah satu dari mereka menerima dana korban, dan sekadar memakainya sebagai ilustrasi celah pengawasan.
Risiko Tanpa Verifikasi dan Leverage 250x
Fokus utama regulator mengarah pada mekanisme pendaftaran yang longgar. Beberapa platform beroperasi penuh hanya dengan bermodal dompet kripto yang terhubung, tanpa mewajibkan proses verifikasi identitas (KYC) sama sekali. Ketiadaan penyaringan pengguna membuka celah bagi praktik pencucian uang dan penghindaran sanksi internasional.
Peringatan itu menyoroti penawaran kontrak perpetual dengan leverage hingga 250x. Produk turunan yang melacak pergerakan harga saham Apple, Tesla, Nvidia, SpaceX, mata uang asing, hingga komoditas masuk dalam pantauan ketat. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC) sebenarnya mengizinkan perdagangan perpetual, tetapi hanya di bursa teregulasi dengan batas pengungkit yang diatur.
Klaim Pemblokiran yang Bertolak Belakang
Dari tujuh nama yang disorot, Hyperliquid sudah lebih dulu mendapat tindakan dari regulator internasional. Otoritas Jasa Keuangan (FCA) Inggris mendaftarkannya sebagai entitas tidak sah sejak bulan Mei 2026. Langkah serupa diambil otoritas moneter Singapura (MAS) yang memajang platform itu di daftar Investor Alert List.
Data lalu lintas web memperlihatkan 22,6% pengunjung Hyperliquid berasal dari Amerika Serikat. Fakta itu berjalan kontras dengan klaim platform yang menyatakan mereka memblokir akses pengguna dari wilayah yurisdiksi AS.
๐ Baca JugaParlemen Polandia Tiga Kali Gagal Tembus Veto Aturan Kripto - Sidang Ungkap Aliran Dana โฌ463.000 ke Mantan Menteri
Batas Inovasi dan Eksploitasi
Bagi pejabat Connecticut, operasi platform lepas pantai tanpa izin tak bisa berlindung di balik alasan kemajuan teknologi. Tong menegaskan posisi pemerintah lewat satu pernyataan tajam soal bahaya yang mengintai investor awam: “Ini bukan inovasi, ini eksploitasi. Teliti dulu sebelum menyerahkan uang apa pun.”
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




