Chief Legal Officer Robinhood Dan Gallagher langsung menolak permintaan CEO AMC Entertainment Adam Aron untuk menghentikan peredaran token AMC. Ia justru menantang AMC untuk segera mengirimkan pengacara mereka jika ingin memprotes. Respons keras ini mendapat dukungan penuh dari CEO Robinhood Vlad Tenev hanya dalam hitungan menit setelah percakapan memanas.
Data RWA.xyz per 4 September mengungkap Robinhood saat ini mengelola 189 produk Stock Token dengan nilai total mencapai $103,2 juta. Angka ini merupakan pecahan dari total nilai tokenisasi saham yang terdistribusi luas di berbagai platform, yang kini menyentuh $2,91 miliar setelah mencatat kenaikan 17,5% dalam tempo 30 hari.
Tapi sengketa ini membesar menjadi ujian regulasi karena struktur aset pelacak yang diperdebatkan.
Pasar Sintetis Tanpa Hak Kepemilikan
Aron menyebut produk token Robinhood tidak patut karena pihak AMC tidak pernah memberi persetujuan atau berpartisipasi dalam perilisannya. Ia menilai Robinhood sebatas membuat pasar sintetis lewat unit perusahaan yang bermarkas di wilayah offshore Jersey, jauh dari jangkauan regulasi AS.
Berdasarkan rumusan resminya, token itu berstatus sekuritas utang terbitan Robinhood Assets (Jersey) Limited, bukan saham asli dari perusahaan sasaran. Setiap keping token ERC-20 yang beredar mengandalkan data feed Chainlink hanya untuk menyiarkan harga referensi di onchain. Pembeli token tidak memegang hak suara, status kepemilikan, atau hak-hak lain yang melekat pada pemegang saham biasa.
Uji Coba Garis Batas SEC
Co-founder RedStone Marcin Kaลบmierczak memprediksi perselisihan AMC dan Robinhood akan mempercepat terwujudnya kerangka aturan sekuritas AS yang konkret. Ia menegaskan inti sengketa bukan pada konsep tokenisasi, melainkan langkah Robinhood membungkus saham perusahaan publik ke dalam derivatif offshore yang tidak terdaftar tanpa izin perusahaan aslinya.
๐ Baca JugaWarga Connecticut Kehilangan $200.000 di DeFi Offshore - Tujuh Platform Besar Langsung Kena Sorot
Produk Stock Token Robinhood dipastikan tidak terdaftar di bawah aturan Securities Act AS, sehingga dilarang ditawarkan kepada warga negara Amerika Serikat. Divisi di dalam SEC sendiri telah membuat perbedaan formal antara sekuritas tokenisasi bersponsor penerbit asli dengan produk dari pihak ketiga. Sengketa otoritas ini langsung menjadi arena pembuktian bagi batas pemisahan itu.
Bagi investor ritel, konflik korporat ini membuka satu kenyataan teknis: memegang token pelacak harga tidak sama dengan memegang bukti kepemilikan sah perusahaan.
Dilansir dari crypto.news.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




