Strive, perusahaan yang ikut didirikan oleh Vivek Ramaswamy pada tahun 2022, kembali memborong 1.110 Bitcoin. Transaksi senilai $81,5 juta ini diselesaikan bertahap dalam rentang waktu lima hari antara 17 hingga 21 Agustus 2026. Berdasarkan dokumen formal yang diajukan kepada Securities and Exchange Commission (SEC) pada 24 Agustus, pembelian ini dieksekusi pada harga rata-rata $73.409 per keping - angka yang sudah mencakup aneka biaya dan pengeluaran.
Manuver belanja ini mengerek posisi cadangan digital perusahaan. Saldo brankas mereka melompat dari 20.246 keping menjadi 21.356 BTC, yang membuat total kepemilikan ini bernilai sekitar $1,7 miliar pada perhitungan harga terkini.
Namun, lonjakan jumlah aset di pembukuan perusahaan ini membawa konsekuensi finansial yang langsung menekan nilai saham tiap investor.
Trik Saham Baru Pemangkas Porsi Investor
Total kepemilikan Bitcoin Strive memang mencatat kenaikan 5,5%. Namun porsi koin yang diwakili oleh tiap lembar saham terdilusi penuh (fully diluted share) hanya naik tipis di kisaran 1,4%. Ketimpangan ini terjadi karena manajemen menempuh jalan pintas untuk mencari modal: mereka mencetak jutaan saham baru guna membiayai belanja kriptonya.
Seluruh uang untuk menutup tagihan Bitcoin ini didapat lewat metode at-the-market offerings. Lewat jalur ini, manajemen mencetak lalu menjual saham baru langsung kepada para pemodal di bursa pada harga saat ini. Efeknya, jumlah saham Kelas A milik Strive membengkak 4,8% dengan suntikan 3.646.300 lembar, yang membawa totalnya mencapai angka 79.890.888 lembar saham.
Di waktu bersamaan, perusahaan turut melepas 441.313 saham bersandi SATA - instrumen preferen perpetual. Penerbitan baru ini mengerek jumlah saham preferen itu sebesar 5,6% hingga menembus 8.270.815 lembar. Minat beli dari para pemodal cukup stabil menahan kucuran pasokan baru ini, terbukti dengan harga SATA yang tetap diperdagangkan di dekat atau sedikit melampaui nilai nominal $100 sepanjang masa penawaran.
Taktik mengeruk uang dari pasar bursa ini berujung pada posisi neraca kas perusahaan yang aneh. Strive menutup tanggal 21 Agustus dengan uang tunai dan setara kas sebesar $171,9 juta. Angka ini justru lebih tinggi ketimbang saldo kas $154,8 juta pada satu pekan sebelumnya, padahal manajemen baru saja mengeluarkan puluhan juta dolar demi membeli Bitcoin. Kucuran uang tunai dari para pembeli saham baru ini terbukti cukup tebal untuk membiayai transaksi kripto sekaligus menambah lapisan likuiditas harian perusahaan.
๐ Baca JugaVivek Ramaswamy Guyur $85 Juta ke Bitcoin Lewat Strive - Bukti Kubu Politik AS Tak Lagi Cuma Omong Kosong
Di Mana Posisi Strive Kini?
Genggaman aset yang telah menyentuh 21.356 BTC ini makin memperkuat barisan Strive di persaingan korporasi lapis menengah. Bila diukur di skala global, simpanan ini masih tertinggal dalam arena dominasi aset institusional yang terus memanas.
Sebagai perbandingan, firma investasi Metaplanet di Jepang memvalidasi capaian kuartal kedua mereka dengan memborong 2.823 keping BTC. Aksi akumulasi itu mendongkrak total simpanan Metaplanet menjadi 43.000 BTC. Di puncak hierarki tertinggi, pengembang perangkat lunak Strategy berdiri sendiri memimpin dengan penguasaan aset mencapai 840.447 BTC.
Bagi pelaku pasar eceran yang membeli saham demi mendapat eksposur pergerakan harga kripto tanpa harus repot menjaga kunci dompet digital, langkah manajemen Strive memberi satu pengingat tegas. Besaran cadangan Bitcoin sebuah perusahaan tidak otomatis membesarkan jatah kepemilikan pemodal ritel. Jika mesin pencetak saham terus dipakai untuk menutup setiap transaksi belanja kripto korporasi, nilai keuntungan riil investor saham akan terus terkikis lewat jebakan dilusi persentase secara perlahan.
Dilansir dari Decrypt.
Baca juga: Apa Itu Bitcoin Halving?
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




