Senate Majority Leader John Thune memastikan Senat Amerika Serikat batal menggelar pemungutan suara untuk CLARITY Act sebelum reses bulan Agustus. Penundaan ini terjadi akibat kubu Demokrat yang menolak jadwal bulan ini. “The Dems are insistent on no Clarity vote,” ujar Thune. Kabar ini langsung memukul sentimen pasar, membuat peluang rancangan undang-undang ini disahkan pada tahun 2026 anjlok tajam ke angka 15% di platform prediksi Polymarket.
Agenda pemungutan suara kini bergeser ke bulan September, tepat ketika anggota dewan dijadwalkan kembali bekerja pada 14 September. Jadwal baru ini mempersempit peluang lolos karena Senat hanya memiliki sisa kalender kerja tiga minggu. Padahal, Chair Senate Banking Tim Scott sempat menyatakan bahwa pemungutan suara harus tetap dilakukan sebelum reses “tanpa pertanyaan”. Namun dengan dinamika politik yang ada, Thune saat ini kemungkinan hanya bisa mengajukan cloture sebelum reses dimulai - sebuah langkah prosedural murni yang tidak menggantikan pemungutan suara akhir.
Syarat 60 Suara yang Sulit Terpenuhi
CLARITY Act sejatinya dirancang untuk menyelesaikan masalah pembagian wewenang, dengan menetapkan batas pasti antara SEC dan CFTC dalam mengawasi kelas aset digital. Namun, perjalanan aturan ini kembali terbentur tembok politik. Untuk bisa lolos, rancangan ini membutuhkan dukungan minimal 60 suara Senat. Sampai saat ini, belum jelas apakah kubu pendukung CLARITY Act sudah berhasil mendapatkan 50 suara awal.
Penolakan datang dari dua sisi. Pihak Demokrat mendesak masuknya aturan yang lebih ketat terkait keuntungan kripto yang diperoleh politisi, menyusul fakta bahwa Donald Trump mengungkap pendapatan lebih dari $1 miliar dari bisnis aset digital sepanjang 2025. Di sisi lain, beberapa senator dari kubu Republik juga terang-terangan menolak mendukung beleid ini. Kebuntuan ini memaksa Thune melempar jadwal voting ke bulan depan.
Harga Altcoin Langsung Merespons
Efek dari penundaan ini langsung menjalar ke pasar kripto global. Analis dari lembaga riset Bernstein mengingatkan bahwa kegagalan CLARITY Act bisa memicu penurunan valuasi aset kripto. Peringatan ini sejalan dengan reaksi awal pasar minggu ini.
📌 Baca JugaSyarat Divestasi Kripto CLARITY Act Bocor - Aturan Etika Ini Berpotensi Hemat Pajak Trump Jutaan Dolar
XRP turun 5,5% dalam sepekan terakhir sebagai imbas langsung dari penundaan ini, menjadikannya aset kripto mayor dengan kinerja paling buruk. Sementara itu, Bitcoin tampak lebih kebal dan bertahan di angka $64.300, bergerak mendatar sepanjang minggu.
Bagi investor yang menunggu kepastian, tarik-ulur di Washington ini menjadi bukti bahwa regulasi belum akan mengikat dalam waktu dekat. Selama politisi belum sepakat, pasar terpaksa menanggung beban volatilitas tanpa payung hukum pasti.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




