Tether baru saja mendapatkan akses legal ke pasar modal senilai $3 triliun. Pada 27 Juli 2026, token emas mereka, XAUt, resmi menerima sertifikasi Syariah dari lembaga penasihat Amanah Advisors.
Keputusan ini turun setelah tim penilai membedah struktur produk XAUt dan menyimpulkannya sejalan dengan aturan ketat keuangan Islam. Token ini lolos karena memenuhi tiga syarat teknis: didukung penuh oleh emas fisik, beroperasi tanpa elemen bunga maupun leverage, dan membuktikan transparansi cadangannya. Dalam sistem kerjanya, setiap keping XAUt mewakili tepat satu troy ounce emas fisik yang saat ini terkunci di fasilitas brankas di Swiss.
Jumlah cadangan emas ini tercatat mendominasi pasar. Data laporan Tether per 31 Maret menunjukkan XAUt dibekingi oleh lebih dari 707.000 troy ounce emas fisik, nilai yang melampaui angka $3,3 miliar di pasar terbuka.
Membidik Investor Teluk dan Afrika
Restu Syariah ini memberi jalan tol bagi Tether untuk menjual produknya ke institusi keuangan Islam global yang selama ini terikat aturan kepatuhan agama. Target pasar utama mereka kini mencakup negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), kawasan Asia Selatan, serta sebagian wilayah Afrika - blok ekonomi yang saat ini mengelola aset gabungan bernilai lebih dari $3 triliun.
XAUt sendiri sudah menempatkan posisinya sebagai salah satu produk emas tokenisasi paling besar di industri kripto. Data dari platform analitik RWA.xyz mencatat nilai aset onchain XAUt merangkak naik dari posisi sekitar $700 juta pada Juli 2025 menjadi $2,5 miliar hari ini.
Langkah ekspansi Tether ini bertepatan dengan momentum Timur Tengah yang makin serius membangun infrastruktur aset digital mereka. Dubai kini tampil sebagai hub kripto utama di kawasan itu. Otoritas Pengatur Aset Virtual (VARA) Dubai bahkan telah menerbitkan 50 lisensi untuk penyedia layanan aset virtual, angka adopsi yang sukses melewati pusat kripto Asia seperti Hong Kong dan Singapura.
📌 Baca JugaENS DAO Bagikan Reward Akhir Juli 2026 - Tapi Ini Bukan Airdrop, Melainkan Gaji Untuk Bersuara
Babak Baru Adopsi Institusional
Masuknya produk kripto ke ranah keuangan Islam sebenarnya mulai dirintis perlahan oleh beberapa entitas. Pada 2025, AlAbraaj Restaurants Group di Bahrain mencetak preseden dengan mengadopsi strategi perbendaharaan Bitcoin, yang kemudian disusul rencana peluncuran instrumen keuangan Syariah berbasis BTC. Tren ini berlanjut pada April 2026 ketika Palm Azgar Finance memperluas jangkauan stablecoin PUSD Syariah mereka ke jaringan ADI Chain.
Namun, masuknya pemain seukuran Tether membawa dampak skala yang berbeda. Bagi institusi pengelola dana umat yang sebelumnya hanya bisa menonton pasar kripto dari luar pagar, sertifikasi emas fisik ini menghapus batas abu-abu itu dan mengubah token onchain menjadi opsi pelindung nilai portofolio yang sepenuhnya sah.
Dilansir dari Cointelegraph.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan nasihat keuangan. Aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan jangan berinvestasi melebihi kemampuanmu menanggung kerugian.




